JAKARTA — Pemerintah resmi meluncurkan program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) yang menggabungkan jenjang SMP dan SMA dalam satu manajemen. Tahap awal mencakup 17 sekolah yang tersebar dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur, menerima ribuan siswa berprestasi tanpa biaya sekolah.
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menjelaskan bahwa SNT adalah inisiatif Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas akses pendidikan berkualitas. “Transformasi kelembagaan dilakukan sehingga dua sekolah yang terpisah kini menjadi satu dengan manajemen bersatu,” ujarnya pada Senin (10/8).
Integrasi tidak hanya pada aspek organisasi. Fasilitas seperti laboratorium, sarana olahraga, dan ruang pembelajaran dapat diakses siswa dari kedua jenjang secara bersama-sama. Hal ini memungkinkan penggunaan infrastruktur yang lebih efisien dan terpadu.
Siswa SNT dipilih melalui seleksi ketat. Mereka harus mendapat rekomendasi dari kepala sekolah dan kepala daerah, lolos Tes Kemampuan Akademik (TKA), serta menjalani penilaian kemampuan akademik dan nonakademik termasuk prestasi olahraga dan seni budaya. “Kami batasi agar kualitas terjaga,” ungkap Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.
Setiap sekolah menerima maksimal 40 siswa per jenjang—total 80 siswa per tahun. Dengan 17 sekolah, ini berarti sekitar 1.360 siswa baru diterima dalam angkatan pertama ini. Mereka mendapatkan pendidikan penuh gratis, beasiswa, dan dukungan lengkap sarana prasarana.
Kurikulum Unggulan dengan Fokus Internasional
SNT menerapkan kurikulum nasional dengan pendalaman khusus di bidang bahasa, akademik, olahraga, dan seni budaya. Desain ini bertujuan menghasilkan lulusan yang siap berkompetisi di tingkat regional dan internasional.
Jalur masuk SMA SNT lebih mudah bagi lulusan SMP SNT. Mereka bisa langsung melanjutkan tanpa mengikuti seleksi ulang lagi. Sementara lulusan SMA SNT dipersiapkan untuk memasuki perguruan tinggi dalam maupun luar negeri sesuai kemampuan mereka.
Ekspansi ke Seluruh Kabupaten dan Kota
Pemerintah telah mengubah rencana awal SNT. Alih-alih hadir di setiap kecamatan, konsep baru menargetkan satu sekolah per kabupaten atau kota. Ini membuat program lebih terukur dan berkelanjutan.
Sistem asrama dihapuskan agar siswa tetap tinggal di wilayah asal mereka. Keputusan ini mempertimbangkan kesiapan infrastruktur lokal dan mendorong pemberdayaan daerah.
Untuk mewujudkan ekspansi ini, pemerintah memerlukan komitmen kuat dari pemda. Dukungan dalam bentuk penyediaan lahan dan biaya pembangunan menjadi kunci agar SNT dapat hadir merata di berbagai kabupaten dan kota dalam waktu dekat.
Sekolah Nasional Terintegrasi menjadi pionir model pendidikan yang mengintegrasikan manajemen, infrastruktur, dan kurikulum. Dengan seleksi ketat dan dukungan penuh, program ini diharapkan mencetak generasi pemimpin baru yang mampu berkontribusi pada pembangunan nasional.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.