Selasa, 11 Agustus 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Protes Keras Format ODI World Cup, Skotlandia-Belanda Kritik ICC

Peralatan olahraga kriket di lapangan hijau stadion saat senja
Perubahan format ODI World Cup oleh ICC memicu protes dari asosiasi kriket Skotlandia dan Belanda. (Ilustrasi: AI)

EDINBURGH — Rencana International Cricket Council (ICC) merombak format turnamen 50-over World Cup menuai kecaman tajam. Dua badan kriket dari negara anggota asosiasi (Associate Member), yakni Cricket Scotland dan Royal Dutch Cricket Association (KNCB), secara resmi melayangkan kritik atas perubahan struktur kualifikasi dan format turnamen yang diumumkan secara mendadak.

Pokok Peristiwa

Keduanya merasa kecewa berat karena kebijakan ini diterapkan saat turnamen tinggal menyisakan waktu kurang dari 18 bulan. Dalam pernyataan bersama, mereka menilai keputusan ICC tersebut sangat tidak menghargai proses perencanaan yang telah dilakukan oleh tim-tim anggota asosiasi selama bertahun-tahun.

Perubahan yang diumumkan ICC pada Juni tersebut mencakup sistem ‘Super Series’ dan babak ‘Super 7’. Meski turnamen tetap diikuti 14 tim, tiga tim dengan peringkat terendah di kualifikasi harus melewati babak ‘Super Series’ terlebih dahulu.

Hanya satu tim pemenang yang berhak melaju ke babak utama 12 tim. Skema ini dinilai menambah beban operasional serta tekanan finansial bagi organisasi yang sudah memiliki sumber daya terbatas.

Konteks

Bagi negara-negara anggota asosiasi, tampil di ajang World Cup adalah panggung vital untuk menarik investasi, sponsor, serta dukungan pemerintah.

Kinerja tim kecil yang mampu menantang atau bahkan mengalahkan tim papan atas (Full Members) selama ini menjadi bukti penting bahwa prestasi harus diraih di lapangan.

Pembatasan peluang bagi negara berkembang dianggap sebagai langkah mundur bagi ambisi kriket untuk menjadi olahraga yang benar-benar global.

Dampak dan Langkah Berikutnya

Selain masalah teknis, proses komunikasi yang dilakukan ICC juga disorot tajam. Cricket Scotland dan KNCB menyatakan bahwa keputusan sebesar ini seharusnya melalui konsultasi yang bermakna dan pemberitahuan yang cukup.

Minimnya keterlibatan anggota dalam pengambilan keputusan ini menciptakan ketidakpastian bagi pemain yang telah lama mempersiapkan diri di tengah siklus kualifikasi yang sedang berjalan.

Kritik serupa juga muncul dari laporan Skysports dan Channelnewsasia, yang mencatat bahwa langkah ICC berisiko melemahkan integritas dan kredibilitas kriket internasional. Mengurangi peluang bagi negara berkembang di saat kriket berupaya memperluas audiens dianggap mengirimkan pesan yang keliru kepada komunitas kriket dunia.

Hingga kini, ICC belum memberikan pernyataan balik terkait desakan peninjauan ulang tersebut. Fokus tim kriket dari Skotlandia dan Belanda saat ini tertuju pada bagaimana mereka harus beradaptasi dengan regulasi baru yang mendadak ini, sembari tetap menjaga asa untuk tampil kompetitif di panggung dunia pada 2027 mendatang yang akan diselenggarakan di Afrika Selatan, Zimbabwe, dan Namibia.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda