TAIPEI — Raksasa teknologi Apple menghadapi kendala produksi serius yang membuat tumpukan cip A20 Pro senilai sekitar 1 miliar dolar AS atau setara Rp15,5 triliun (asumsi kurs Rp15.500) tertahan di fasilitas TSMC.
Komponen inti yang diproyeksikan untuk iPhone generasi mendatang, kemungkinan besar seri iPhone 18 Pro, tidak bisa diselesaikan proses produksinya akibat keterlambatan pasokan memori DRAM.
Analisis dari Tim Culpan, seorang pengamat semikonduktor di Taipei, menyebutkan bahwa proses fabrikasi cip menggunakan node N2 milik TSMC sebenarnya berjalan dengan hasil produksi atau yield yang optimal. Namun, teknologi kemasan baru yang diusung Apple, yaitu Wafer-Level Multi-Chip Module (WMCM), menciptakan hambatan alur kerja yang tidak terduga.
Perubahan Desain yang Menjadi Bumerang
Selama satu dekade terakhir, Apple menggunakan metode Integrated Fan-Out (InFO). Teknik ini memungkinkan prosesor difabrikasi, dipotong, dan disimpan sebagai stok cip logika, sementara memori DRAM bisa dipasang pada tahap perakitan akhir. Strategi ini sangat fleksibel jika terjadi kendala pasokan memori.
Namun, transisi ke WMCM memaksa prosesor dan memori disatukan secara langsung pada tingkat wafer. Desain ini dipilih Apple untuk menekan latensi dan mengakomodasi kebutuhan memori yang lebih besar demi fitur kecerdasan buatan (AI) langsung di perangkat.
Konsekuensinya, TSMC kini tidak bisa lagi menyimpan cip mentah jika modul memorinya belum tersedia. Saat ini, kelangkaan memori LPDDR5X menjadi faktor utama penghambat, karena kapasitas produksi global tersedot untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur AI di pusat data.
Dampak Nyata bagi Konsumen
Meskipun Apple diyakini tetap bisa meluncurkan iPhone baru tepat waktu, ketersediaan unit setelah peluncuran diprediksi akan menjadi tantangan besar. Penipisan stok ritel serta estimasi waktu pengiriman yang lebih panjang kemungkinan besar menanti para calon pembeli.
Foxconn dan BYD Electronics sebagai perakit utama pun menghadapi tekanan jadwal yang kian ketat karena keterlambatan pasokan cip yang sudah terkemas.
Situasi ini semakin pelik karena upaya Apple untuk mencari pemasok memori alternatif seperti CXMT di China belum membuahkan hasil nyata.
Sebagaimana dilaporkan oleh Yahoo Finance, Apple sempat menjajaki kemungkinan kerja sama dengan CXMT, namun produsen asal China tersebut dilaporkan telah mengalokasikan seluruh kapasitas produksinya untuk tahun 2026.
Selain masalah ketersediaan, kendala regulasi dan pembatasan transfer teknologi dari Amerika Serikat turut membayangi potensi kolaborasi tersebut.
Saat ini, Apple masih bergantung pada pemasok utama seperti Micron, SK Hynix, dan Samsung. Dengan target pengiriman sekitar 200 juta unit iPhone di masa depan, Apple kini berada di posisi sulit di tengah persaingan memperebutkan pasokan memori yang kian terbatas akibat ambisi AI global.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.