Perintah itu juga meminta negara bagian meninjau rekomendasi federal dan mempertimbangkan pembaruan undang-undang serta aturan yang mendefinisikan kewajiban imunisasi. Di titik ini, perdebatan bergeser dari Washington ke ruang praktik dokter dan dewan sekolah di tiap negara bagian.
Kalau negara bagian mengikuti arahan baru, jadwal vaksin anak bisa berubah jauh lebih rumit karena lebih banyak kunjungan medis dibutuhkan.
Soal autisme, Trump dan Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Robert F. Kennedy Jr. sudah lama mendorong teori yang tidak didukung bukti.
Zoe Gross dari Autistic Self-Advocacy Network mengatakan pemisahan MMR sudah lama menjadi pokok pembicaraan kelompok anti-vaksin sejak studi Andrew Wakefield yang kemudian dicabut. Helen Tager-Flusberg dari Boston University juga memperingatkan dampak besar pada dokter anak.
“It has huge consequences as you say, and it also has terrible consequences for the pediatricians who do their best to serve the public, they have such limited time with each family,” kata dia kepada The Independent.
Di sisi lain, data CDC yang dikutip dalam bahan justru menyebut kenaikan diagnosis autisme lebih mungkin terkait perbaikan skrining dan praktik diagnosis. Laporan bienial 2025 menyatakan perbedaan prevalensi anak dengan ASD antarkomunitas bisa dipengaruhi oleh ketersediaan layanan deteksi dini, evaluasi, dan praktik diagnosis.
Langkah ini juga memberi sinyal kuat ke arah kebijakan kesehatan di bawah pemerintahan Trump kedua.
Axios melaporkan perintah itu sedang disiapkan untuk membagi MMR menjadi tiga suntikan dan mendorong vaksin diberikan pada kunjungan medis terpisah, sementara Bloomberg dan The Guardian sama-sama menyebut Trump sudah menandatanganinya di Oval Office.
Berikutnya, perhatian tertuju ke apakah negara bagian akan mengikuti dorongan baru itu atau menahan perubahan pada jadwal vaksin anak yang sudah dipakai selama ini.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.