Tanah Kolombia berguncang hebat tepat saat warga memulai aktivitas Senin pagi. Pukul 07.34 waktu setempat, gempa berkekuatan 7,4 magnitudo menghantam wilayah Chocó di barat laut, meruntuhkan rumah-rumah dan menimbun ratusan nyawa di bawah puing-puing.
Musibah ini menjadi ujian paling krusial bagi kepemimpinan Presiden Gustavo Petro sejak ia menjabat, saat ia harus membuktikan apakah pemerintahannya punya taji menangani krisis berskala nasional di tengah medan yang sulit.
Layanan Geologis Kolombia mencatat episentrum gempa berada di dekat San José del Palmar, sebuah kota kecil di pegunungan yang terjal. Guncangan ini tercatat sebagai yang paling kuat dalam satu dekade terakhir. Seolah belum cukup, bumi di sana terus bergetar hebat. Hingga Senin malam, tercatat ada 21 gempa susulan yang terus menghantui warga di pusat bencana.
Jejak Kerusakan di Kawasan Terpencil
Dampak nyata mulai terlihat di kota-kota besar seperti Cali, Quibdo, dan Pereira. Namun, kehancuran sesungguhnya tersimpan di desa-desa terpencil. Estimasi awal menunjukkan sedikitnya 5.000 rumah hancur lebur atau rusak berat.
Tim penyelamat kini berpacu dengan waktu, meski akses jalan terputus total akibat tanah longsor dan jaringan komunikasi yang lumpuh total. Angka korban jiwa yang kini mencapai lebih dari 200 orang dikhawatirkan bakal terus melonjak tajam.
Nubia Carolina Córdoba Curi, Gubernur Chocó, tampak getir saat berbicara pada Selasa pagi. Ia mengakui pihak otoritas masih kesulitan mendata kerusakan secara akurat. “Yang belum kami miliki adalah tally lengkap kerusakan fisik karena benar-benar masif,” ujarnya.
Di kota kecil El Cairo, pemandangan jauh lebih memilukan. Otoritas lokal di sana melaporkan sekitar 80 persen bangunan telah rata dengan tanah.
Wilayah Chocó sendiri bukanlah kawasan yang ramah bagi upaya tanggap darurat. Jauh sebelum gempa ini datang, kawasan tersebut sudah menjadi medan tempur kelompok-kelompok bersenjata serta hidup dalam jeratan kemiskinan yang kronis.
Ketiadaan infrastruktur dasar di wilayah yang sering disebut sebagai “tanah terlupakan” ini membuat logistik bantuan menjadi mimpi buruk bagi tim penanganan bencana nasional.
Ujian Politik bagi Petro
Di tengah kepulan debu dan ratapan warga, Presiden Gustavo Petro melontarkan janji tegas. Ia mencoba membalikkan narasi pengabaian pemerintah pusat yang selama ini melekat pada Chocó. “Chocó tidak akan pernah lagi menjadi tanah yang terlupakan,” ucap Petro saat meninjau situasi.
Ia menekankan bahwa setiap keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan anggota keluarga menjadi prioritas utama pemerintahannya saat ini.
Retorika Petro kali ini terasa berbeda. Ia membawa nada yang lebih keras, yang oleh banyak pengamat dianggap sebagai upaya membangun citra populis serupa gaya Nayib Bukele di El Salvador atau Donald Trump.
Fokusnya adalah pada klaim ketegasan pemerintah dalam memulihkan ketertiban sekaligus memberikan bantuan langsung. Bagi Petro, kesuksesan menangani gempa ini adalah pertaruhan besar.
Ia perlu memastikan bahwa bantuan tidak hanya sampai ke kota besar, tapi juga menembus pelosok Chocó yang selama ini termarginalkan.
Skeptisisme publik pun mulai muncul. Apakah pemerintah sanggup memulihkan kawasan yang secara historis sudah tertinggal jauh? Jawabannya kini bergantung pada kecepatan distribusi bantuan dan efektivitas koordinasi di lapangan.
Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan administrasi Petro akan ditentukan dalam beberapa hari ke depan. Sementara itu, di bawah reruntuhan, ribuan orang masih hilang, dan harapan keluarga kini sepenuhnya tertumpu pada tim pencari yang terus bekerja keras di bawah bayang-bayang gempa susulan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.