Rabu, 12 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Retret meditasi 7 hari dikaitkan dengan perubahan otak mirip psikedelik

Retret meditasi tujuh hari memicu perubahan otak dalam studi
Studi pada retret meditasi tujuh hari menemukan perubahan aktivitas otak dan darah pada peserta dewasa sehat. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — retret meditasi selama tujuh hari dikaitkan dengan perubahan otak dan darah yang oleh peneliti disebut mirip efek pengalaman psikedelik, menurut studi yang dipublikasikan di Communications Biology pada 2025.

Temuan itu datang dari penelitian kecil yang dilakukan tim UC San Diego terhadap 20 orang dewasa sehat yang dipilih acak dari lebih dari 500 peserta sebuah retret meditasi dan kesehatan di San Diego. Hasilnya memang belum membuktikan sebab-akibat. Tapi sinyal biologis yang muncul terasa jauh lebih besar dari sekadar tubuh rileks setelah kelas meditasi.

Retret meditasi dan perubahan yang terukur

Selama tujuh hari, para peserta mengikuti kuliah harian tentang kemampuan penyembuhan diri tubuh, kekuatan pikiran dalam membentuk realitas, serta manfaat hadir penuh dalam momen saat ini. Mereka juga menjalani meditasi terpandu dengan latihan napas sadar dan ritual penyembuhan kelompok, saat para penyembuh memusatkan perhatian pada salah satu anggota grup.

Dari 20 peserta itu, 14 perempuan dan 6 laki-laki, dengan rata-rata usia sekitar 46 tahun. Sebanyak 11 orang sudah tergolong meditator tingkat lanjut, yakni memiliki setidaknya enam bulan pengalaman dengan teknik yang dipakai, sedangkan 9 lainnya masih pemula. Komposisi ini penting, karena pengalaman meditasi bisa memengaruhi bagaimana tubuh merespons sesi intensif seperti ini.

Para peserta menjalani pemeriksaan sebelum dan sesudah retret. Tim peneliti memakai pemindaian otak fMRI, tes plasma darah, dan kuesioner untuk mengukur pengalaman mistis. Tidak ada obat psikedelik yang dikonsumsi dalam studi ini. Itu poin yang menonjol.

Aktivitas otak turun, konektivitas berubah

Sesudah rangkaian meditasi selesai, peneliti menemukan penurunan aktivitas di default mode network, jaringan otak yang terkait dengan pikiran yang berpusat pada diri sendiri dan proses internal. Aktivitas di salience network juga turun. Jaringan ini membantu otak mengenali rangsangan dari dalam dan luar tubuh.

Menurut tim, meditasi tampak mengurangi aktivitas yang terpecah-pecah di otak dan mendorong keadaan fungsional yang lebih menyatu, sehingga aliran informasi berjalan lebih efisien. Bagi dunia riset, ini menarik. Soalnya, perubahan seperti ini biasanya dicari dalam studi tentang kesadaran, perhatian, dan plastisitas saraf.

Untuk menguji apakah ada pengaruh pada neuroplastisitas, plasma darah setelah retret diberikan ke neuron di cawan laboratorium. Sel-sel itu tumbuh dengan neurit yang lebih panjang dibandingkan sel yang mendapat plasma sebelum retret. Dari sini, peneliti melihat ada indikasi bahwa kondisi tubuh peserta ikut berubah, bukan hanya persepsi mereka saat mengisi kuesioner.

Angka yang membuat studi ini menonjol

Perubahan lain juga muncul di darah. Peneliti melaporkan pergeseran ke metabolisme glikolitik, sinyal modulasi imun, dan kenaikan opioid endogen, yakni zat pereda nyeri alami dalam tubuh. Di sisi pengalaman subjektif, skor Mystical Experience Questionnaire atau MEQ-30 naik dari 2.37 menjadi 3.02.

Nilai itu yang membuat studi ini ramai dibicarakan di kalangan sains pikiran-tubuh. Para peneliti menyebut kenaikan tersebut sebanding dengan hasil yang kerap terlihat pada penggunaan psilosibin.

Hemal Patel, peneliti biomedis dari UC San Diego, mengatakan, “This isn’t about just stress relief or relaxation,” lalu menambahkan, “This is about fundamentally changing how the brain engages with reality and quantifying these changes biologically.”

Patel juga menegaskan, “We’re seeing the same mystical experiences and neural connectivity patterns that typically require psilocybin, now achieved through meditation practice alone.” Ia menambahkan, “Seeing both central nervous system changes in brain scans and systemic changes in blood chemistry underscores that these mind-body practices are acting on a whole-body scale.”

Kenapa temuan ini penting

Bagi pembaca, dampaknya ada pada cara kita memandang meditasi. Selama ini meditasi sering dilekatkan pada relaksasi, tidur lebih nyenyak, atau penurunan stres. Studi ini mendorong percakapan yang lebih luas: apakah latihan pikiran yang intensif, jika digabung dalam satu retret, bisa memengaruhi sistem tubuh secara lebih mendalam?

Kalau temuan seperti ini terus diperkuat riset yang lebih besar, industri kesehatan mental dan kebugaran bisa ikut terdorong untuk menata ulang program retret, pelatihan napas, hingga kelas meditasi terpandu. Tapi publik juga perlu menahan ekspektasi.

Studi ini hanya kecil, observasional, dan tidak punya kelompok kontrol. Artinya, peneliti belum bisa memastikan retret meditasi sebagai penyebab langsung semua perubahan yang mereka lihat.

Ada satu catatan yang juga tidak kecil. Salah satu penulis studi, Joe Dispenza, adalah CEO perusahaan Encephalon yang menggelar retret meditasi yang dibahas dalam riset ini, sekaligus menjual akses ke konten meditasi dan penyembuhan lain.

Fakta itu membuat pembaca perlu melihat hasil studi dengan lebih hati-hati, meski para peneliti sendiri sudah mengakui perlunya desain riset yang lebih ketat di studi berikutnya.

Patel menutup penjelasannya dengan satu hal yang terasa paling penting: “We’ve known for years that practices like meditation can influence health. But what’s striking is that combining multiple mind-body practices into a single retreat produced changes across so many biological systems that we could measure directly in the brain and blood.”

Temuan itu masih jauh dari kata final, tapi angka yang muncul cukup jelas: 20 peserta, skor MEQ-30 naik dari 2.37 ke 3.02, dan perubahan terukur muncul di otak serta darah.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 12 Agustus 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir