Rabu, 12 Agustus 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Saham CoreWeave Melesat 14% Usai Pendapatan Melonjak Berkat AI

Deretan rak server di pusat data modern dengan pencahayaan biru
Fasilitas pusat data menjadi kunci pertumbuhan CoreWeave di tengah tingginya permintaan infrastruktur AI. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Saham penyedia infrastruktur kecerdasan buatan, CoreWeave, melonjak 14 persen dalam perdagangan luar jam bursa pada Selasa. Kenaikan harga saham ini terjadi setelah perusahaan melaporkan kinerja keuangan kuartal kedua yang melampaui ekspektasi Wall Street, didorong oleh permintaan masif terhadap layanan komputasi awan berbasis AI.

Perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar 2,58 miliar dolar AS, lebih tinggi dari proyeksi konsensus analis yang berada di angka 2,56 miliar dolar AS. Berdasarkan laporan yang dikutip dari CNBC dan CNA, pendapatan ini tumbuh 112 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Meskipun mencatatkan kerugian bersih sebesar 626 juta dolar AS, angka kerugian per saham disesuaikan tercatat 1,03 dolar AS, lebih baik dibanding ekspektasi pasar yang memprediksi kerugian 1,20 dolar AS.

Lonjakan Permintaan AI dan Proyeksi Bisnis

Peningkatan performa keuangan ini tidak lepas dari kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi raksasa. CoreWeave mengumumkan telah menjalin bisnis dengan Meta dan Anthropic selama kuartal tersebut.

Selain itu, terdapat komitmen kontrak senilai 6 miliar dolar AS dari perusahaan perdagangan kuantitatif Jane Street.

Hingga akhir Juni, perusahaan mengantongi nilai kontrak tunda atau revenue backlog sebesar 104 miliar dolar AS, jumlah yang belum memasukkan komitmen baru senilai lebih dari 25 miliar dolar AS dari kuartal ketiga.

Chief Financial Officer CoreWeave, Nitin Agrawal, mengungkapkan bahwa pihaknya tetap optimistis meski persaingan di pasar infrastruktur cloud semakin ketat. Perusahaan kini menetapkan target pendapatan tahun 2026 di kisaran 12,4 miliar dolar AS hingga 13,2 miliar dolar AS.

Target belanja modal tahunan juga dinaikkan ke kisaran 35 miliar dolar AS hingga 39 miliar dolar AS, mencerminkan kebutuhan untuk menambah kapasitas daya aktif yang ditargetkan mencapai lebih dari 1,85 gigawatt pada akhir tahun.

Tantangan Regulasi dan Persaingan Pasar

Di balik optimisme pertumbuhan, CoreWeave menghadapi tantangan regulasi di Amerika Serikat terkait pembangunan pusat data. Gubernur New York, Kathy Hochul, diketahui telah menandatangani perintah eksekutif yang memberlakukan moratorium terhadap pembangunan pusat data skala besar baru.

Menanggapi hal tersebut, CEO CoreWeave Mike Intrator menegaskan bahwa angka-angka proyeksi perusahaan saat ini tidak akan terdampak oleh penolakan regulasi tersebut.

Secara operasional, perusahaan terus berupaya mengamankan pasokan chip pemrosesan grafis Nvidia untuk menjalankan model AI generatif. Hingga akhir kuartal, CoreWeave memiliki utang sebesar 35 miliar dolar AS di neraca keuangannya untuk membiayai pengadaan peralatan tersebut.

Intrator menekankan bahwa tren harga dan margin untuk unit chip Blackwell dan Vera Rubin tetap mencatatkan rekor tertinggi, sementara harga untuk generasi chip sebelumnya tetap stabil di tingkat yang kompetitif.

Persaingan di sektor ini juga semakin variatif dengan masuknya pemain baru, termasuk langkah SpaceX yang mulai menjual kapasitas komputasi berlebih. Meski begitu, manajemen CoreWeave meyakini bahwa pasar yang mereka bidik, yang dikenal sebagai Total Addressable Market (TAM), masih sangat luas sehingga memungkinkan pertumbuhan margin tetap terjaga di tengah meningkatnya kompetisi.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair