JAKARTA — Karoline Leavitt akan meninggalkan jabatan juru bicara Gedung Putih pada akhir bulan ini. Alasannya jelas: ia ingin lebih banyak waktu untuk dua anaknya dan keluarga setelah melahirkan putrinya pada Mei.
Keputusan itu langsung berdampak pada tim komunikasi Gedung Putih, karena Leavitt adalah salah satu wajah paling menonjol di pemerintahan Donald Trump. Meski mundur dari jabatan resmi, Trump menyatakan Leavitt tetap akan berada di lingkaran dekatnya sebagai penasihat dari luar Gedung Putih.
Leavitt: tak bisa jadi ibu terbaik jika terus di posisi itu
Dalam pernyataan yang dikutip pada Rabu, Leavitt bilang bahwa sejak kembali dari cuti melahirkan pada Juni, ia merasa tidak mungkin menjadi ibu terbaik bagi dua anaknya jika tetap memegang tuntutan kerja yang menyita waktu, tenaga, dan perhatian penuh.
Ia menyebut keputusan itu sebagai langkah yang pahit. Di saat yang sama, Leavitt memberi pujian kepada Trump karena telah memilih dan mendukungnya sebagai juru bicara Gedung Putih.
Trump sendiri menanggapi lewat Truth Social. Ia mengatakan memahami dan menghormati keputusan Leavitt, sembari mengonfirmasi bahwa Leavitt akan berperan sebagai penasihat utama dari luar pemerintahan. Trump juga menulis bahwa Leavitt telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik dalam membela keadilan.
Leavitt menambahkan bahwa ia akan tetap menjadi pendukung vokal bagi MAGA dan Partai Republik. Ia juga menutup pernyataannya dengan serangan tajam ke Partai Demokrat, yang menurutnya berupaya menghancurkan segala hal yang hebat tentang Amerika.
Wajah muda yang naik cepat di orbit Trump
Leavitt bukan nama baru di lingkaran Trump. Ia pernah bekerja untuk Trump pada masa jabatan pertama di Office of Presidential Correspondence, menulis surat untuk para konstituen sebelum kemudian naik menjadi asisten juru bicara pers.
Pada 2021, Leavitt bergabung dengan Elise Stefanik sebagai direktur komunikasi. Setahun kemudian, ia maju sebagai kandidat DPR untuk Distrik Kongres Pertama New Hampshire, tetapi kalah dari petahana Chris Pappas. Setelah itu, ia menjadi juru bicara nasional untuk kampanye presiden Trump 2024.
Menurut sumber yang sama, Leavitt berusia 27 tahun ketika ditunjuk sebagai juru bicara Gedung Putih, menjadikannya orang termuda yang pernah memegang posisi itu. Status itu ikut membuat keputusannya kali ini terasa besar. Bukan cuma bagi Gedung Putih, tapi juga bagi cara Trump menyusun ulang tim komunikasinya menjelang fase politik berikutnya.
Dampaknya ke Gedung Putih dan Partai Republik
Kepergian Leavitt datang pada saat komunikasi Gedung Putih berada di jalur sangat politis. Dalam masa jabatannya, ia dikenal kerap berkonfrontasi dengan wartawan yang ia anggap bias atau berpihak ke kiri. Ia juga membela keputusan pemerintahan Trump yang membatasi akses wartawan Associated Press ke acara pool di Oval Office tahun lalu.
Di saat yang sama, Leavitt memberi ruang bagi media non-tradisional dan para influencer sayap kanan dalam ruang briefing. Pola itu memperlihatkan perubahan cara Gedung Putih mengelola pesan politik dan akses media, sesuatu yang ikut memengaruhi ritme liputan harian di Washington.
Bagi pembaca di luar Amerika Serikat, kisah ini penting karena menunjukkan bagaimana satu posisi komunikasi di Gedung Putih bisa punya efek berantai ke cara pemerintahan Trump berbicara ke publik, membangun loyalitas politik, dan mengatur panggung jelang pertarungan legislatif berikutnya. Trump bahkan menyebut Leavitt akan tetap menjadi suara berpengaruh di Partai Republik.
Leavitt mengakhiri pernyataannya dengan nada yang masih sangat politis. “My fight is entering a new phase, but it is far from over,” katanya dalam pernyataan yang dikutip ABC Australia. Kalimat itu menandai satu hal: ia mundur dari podium, tapi belum keluar dari arena.
Trump ikut menegaskan hal serupa dalam unggahan Truth Social, dengan menyebut Leavitt telah melakukan pekerjaan yang fenomenal dalam membela Justice. Posisi resminya memang selesai pada akhir bulan. Pengaruhnya, tampaknya, belum.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.