Samir Madani, pendiri TankerTrackers.com, mengatakan kepada BBC Verify bahwa ia yakin tumpahan itu berasal dari Minoan Pioneer dan menyebut serangan itu sebagai “self-inflicted wound by Iran”. Wim Zwijnenburg, pakar konflik lingkungan dari organisasi perdamaian Belanda PAX, juga menilai bukti visual mengarah ke kapal yang sama.
Ancaman ke mangrove, karang, dan nelayan
Dr Keyvan Hosseini dari University of Southampton menyebut lokasi pencemaran itu “very concerning”. Menurut dia, Qeshm memiliki habitat pesisir dan laut yang sensitif, termasuk mangrove, area peneluran penyu, dan wilayah tangkap ikan yang penting.
“This means the spill could have especially serious consequences for wildlife, ecosystems and local communities,” kata Hosseini kepada BBC Verify. John Amos juga mengingatkan minyak yang terlihat di permukaan mungkin hanya bagian atas dari dampak lingkungan. Komponen yang lebih berat bisa tenggelam dan menetap di dasar laut selama bertahun-tahun.
Media Iran sempat melaporkan asal pencemaran masih diselidiki, sementara juru bicara kementerian luar negeri Iran pada Kamis menyebut sumbernya adalah “foreign bulk ship”. Seorang pejabat perlindungan lingkungan setempat kemudian mengatakan tumpahan itu sudah “almost completely cleaned up”, meski BBC Verify belum bisa memastikannya secara independen.
Untuk Qeshm, pertanyaannya kini bukan hanya siapa yang memulai insiden ini. Yang lebih mendesak: seberapa jauh minyak itu sudah meresap ke pantai, dasar laut, dan lokasi penangkapan ikan di sekitar pulau strategis Iran itu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.