Selasa, 18 Agustus 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Gugatan Meta Berpotensi Bikin Denda Rp1,4 Kuadriliun

Gugatan Meta bisa berujung denda Rp1,4 kuadriliun
Gugatan Meta di AS terancam memukul bisnis media sosial perusahaan itu jika kalah di pengadilan. (Ilustrasi: AI)

Tekanan hukum yang terus menumpuk

Sidang kali ini datang setelah serangkaian pukulan hukum lain. Pada Maret, Meta kalah dalam perkara di LA Superior Court dan, bersama YouTube, dinyatakan lalai dalam menyebabkan masalah kesehatan mental seorang pria berusia 20 tahun. Putusan itu keluar sehari setelah Meta kalah dalam perkara serupa di New Mexico.

Beberapa minggu lalu, Meta juga diperintahkan membayar hampir setengah miliar dolar setelah platformnya dinyatakan, setidaknya menurut hukum New Mexico, sebagai gangguan publik. Rangkaian putusan itu membuat perkara baru ini terlihat lebih berat dari sekadar sengketa biasa.

Meta tidak cuma berhadapan dengan kritik soal fitur produk, tapi juga dengan pola tuduhan yang makin konsisten: sistemnya dianggap dirancang untuk membuat orang terus menggulir layar.

Peralihan strategi penuntut juga penting. Dalam beberapa tahun terakhir, jaksa tidak lagi hanya menekankan isi konten yang tampil di platform. Fokusnya bergeser ke cara perusahaan membangun sistem itu sendiri, termasuk cara algoritma dibuat untuk menjaga orang tetap aktif. Menurut bahan sumber, pendekatan itu lebih mudah dibuktikan di pengadilan.

Itu yang membuat gugatan Meta terasa sensitif. Jika pengadilan menerima argumen bahwa fitur dan desain platform sengaja dibuat untuk mempertahankan atensi, maka isu ini tidak berhenti di satu perkara saja.

Perusahaan media sosial lain bisa ikut menanggung tekanan serupa, sementara Meta sendiri harus menjawab pertanyaan yang jauh lebih mahal: apakah pertumbuhan pengguna selama ini dibayar dengan risiko hukum yang kini kembali menghantam mereka?

Kenapa perkara ini berat buat Meta

Nilai $1.4T yang disebut dalam bahan sumber bukan angka kecil yang sekadar mempertebal berkas. The Verge menulis bahwa jumlah itu, jika benar dijatuhkan, cukup untuk mencekik Meta hingga patuh atau lebih buruk lagi. Bagi perusahaan yang selama ini mengandalkan skala pengguna untuk menjual iklan, gugatan semacam ini menyentuh jantung bisnisnya.

Pada masa ketika Facebook, YouTube, Twitter, dan Snap bersaing ketat soal monthly active users, pertumbuhan menjadi segalanya. Meta, yang dulu bernama Facebook, rutin menonjolkan jumlah pengguna globalnya. Saat menembus 1 miliar pengguna global, Zuckerberg menyebut pencapaian itu “amazing, humbling and by far the thing I am most proud of in my life.”

Skala itu menguatkan valuasi perusahaan. Semakin lama orang bertahan di platform, semakin banyak iklan yang terlihat, dan semakin besar uang yang mengalir ke Meta. Karena itu, tuduhan bahwa desain produk dibuat untuk memperpanjang waktu layar bukan perkara sampingan. Itu langsung mengenai cara perusahaan menghasilkan uang.

Meta sendiri dalam beberapa tahun terakhir telah memperbarui kontrol orang tua di semua platformnya dan mempromosikan langkah itu ke publik. Tapi sidang besok akan menentukan apakah langkah-langkah tersebut cukup untuk menahan serangan hukum yang kini datang dari 32 negara bagian. Jika tidak, sidang ini bisa jadi salah satu yang paling menentukan dalam sejarah hukum media sosial modern.

Di sidang 18 Agustus itu, semua mata akan tertuju ke kursi saksi. Zuckerberg dan Mosseri. Dua nama yang selama ini menentukan arah produk, kini harus menjelaskan di depan pengadilan bagaimana platform mereka dibangun dan mengapa tuduhan soal remaja itu terus menempel kuat.

Halaman:12Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 18 Agustus 2026: Klaim Pack & Coins Gratis