Selasa, 18 Agustus 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Harga DDR5 Naik 486%, Krisis SSD Diprediksi Sampai 2030

Harga DDR5 dan SSD internal naik tajam di pasar retail
Harga DDR5 di pasar retail Jerman melonjak, sementara SSD internal ikut naik dalam laporan terbaru. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Harga DDR5 kembali melonjak tajam dan laporan terbaru menunjukkan krisis memori belum mereda. Di pasar retail Jerman, harga DDR5 per pertengahan Agustus naik ke 486% dari biaya pada Juli 2025, atau sekitar lima kali lipat dibanding sebelum krisis mulai setahun lalu.

Bagi pasar PC, ini bukan kabar kecil. SSD internal juga ikut naik 7,7% month-on-month di pasar yang sama, sementara sinyal dari rantai pasok NAND membuat tekanan harga storage terlihat masih panjang.

Harga DDR5 menembus 486% di Jerman

Wccftech mengutip data bulanan terbaru dari 3D Center yang memperlihatkan kenaikan harga DDR5 di retail Jerman terus menanjak. Pada bulan sebelumnya, levelnya berada di 445%, lalu naik lagi ke 486% pada pertengahan Agustus. Sebelum itu, angka yang tercatat adalah 419%.

Kalau dihitung dari pertengahan Juni, harga DDR5 pada Agustus tercatat naik 16%. Angka ini penting karena menunjukkan tren naiknya bukan sekadar lonjakan sesaat, melainkan pergerakan yang konsisten selama beberapa bulan.

3D Center menyebut gambaran besarnya mengarah pada tren harga yang mengkhawatirkan dan kemungkinan segera menembus level sangat tinggi, kecuali tren itu berhenti. Sampai sekarang, mereka bilang belum ada tanda-tanda yang mengarah ke sana.

SSD internal ikut tertekan

Masalahnya tidak berhenti di RAM. Di pasar retail Jerman, harga SSD internal dilaporkan naik 7,7% month-on-month dan kini sekitar 2,2 kali lebih mahal dibanding sebelum krisis.

Artinya, pengguna yang menunggu harga komponen turun untuk merakit PC baru, memperbesar kapasitas laptop, atau mengganti penyimpanan lama justru dihadapkan pada biaya yang makin berat. Soalnya, dua komponen inti yang sering jadi sasaran upgrade sama-sama bergerak ke atas.

Untuk pembeli PC rakitan, dampaknya terasa langsung. Budget yang tadinya cukup untuk memori lebih besar dan SSD lebih lega kini berpotensi habis hanya untuk menjaga spesifikasi tetap di level yang sama. Produsen perangkat juga tidak lepas dari tekanan ini karena mereka tetap harus menjual desktop dan laptop baru di tengah biaya komponen yang naik.

Sinyal buruk dari pasar NAND

Wccftech juga menyoroti pernyataan Pua Khein-Seng, CEO Phison, perusahaan pembuat controller SSD. Mengutip laporan Taiwan’s Commercial Times, Pua mengatakan ia sempat berbincang dengan eksekutif senior dari produsen NAND dan menanyakan berapa lama waktu yang dibutuhkan dari investasi sampai produksi massal benar-benar berjalan.

Jawaban yang ia terima jauh lebih lama dari perkiraan awal. Menurut Pua, estimasi awal sekitar dua tahun, tetapi jawabannya berubah menjadi empat tahun.

Jika hitungan itu dipakai, maka gangguan pasokan NAND diperkirakan bisa bertahan hingga 2030, bukan 2028 seperti perkiraan sebelumnya. Ini yang membuat pasar storage makin gelap, karena NAND adalah bahan dasar penting untuk SSD.

Yang membuatnya makin sensitif, ramalan itu datang bersamaan dengan kabar lain yang menyebut krisis RAM juga bisa berlangsung lama, bahkan sampai 2030 dan seterusnya. Wccftech menulis bahwa sisa tahun ini dan 2027 diperkirakan bakal melihat situasi memburuk.

Bagi konsumen, artinya pilihan membeli sekarang atau menunggu jadi makin sulit. Menunda pembelian tidak otomatis memberi harga lebih baik, sementara membeli sekarang berarti menerima harga komponen yang sudah tinggi. Dan untuk saat ini, angka 486% pada harga DDR5 menjadi penanda paling keras bahwa pasar belum menemukan remnya.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 18 Agustus 2026: Klaim Pack & Coins Gratis