Bagi publik, momen ini penting bukan hanya karena terjadi di Oval Office. Ada pesan yang lebih luas: cara Gedung Putih memperlakukan pertanyaan wartawan, terutama jurnalis perempuan, masih jadi titik rawan. Saat pemimpin negara menyerang reporter di depan saksi langsung, garis antara konferensi pers dan panggung konfrontasi makin tipis.
Riwayat Trump soal ini juga panjang. Pada November, ia menyerang reporter White House The New York Times, Katie Rogers, setelah media itu memuat analisis yang menyebut jumlah agenda resmi Trump turun 39 percent dibanding periode yang sama pada masa jabatan pertamanya.
Trump menuduh Rogers hanya ditugaskan menulis hal buruk dan menyebutnya reporter kelas tiga yang jelek, “both inside and out.” The Times membalas bahwa laporannya akurat dan berbasis pelaporan langsung.
Beberapa hari sebelum itu, di Air Force One, Trump juga menunjuk reporter Bloomberg News Catherine Lucey saat ditanya soal apakah pemerintah akan merilis berkas penyelidikan FBI terkait Jeffrey Epstein. Ketika Lucey mencoba melanjutkan pertanyaan, Trump memotongnya dengan hinaan. Pola itu kini kembali muncul, kali ini dengan seorang bocah 10 tahun dan remaja 16 tahun berada di dalam ruangan.
Gedung Putih belum langsung menanggapi permintaan komentar soal ucapan Trump, termasuk soal apakah keluarga kedua bocah diberi tahu lebih dulu bahwa mereka bisa ikut terseret ke dalam pertukaran kata dengan pers. Pertanyaan itu masih menggantung, dan tekanan kepada kantor presiden diperkirakan belum mereda.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.