Rabu, 19 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Istilah polyester jadi cara Gen Z menyebut yang fake

Istilah polyester jadi cara Gen Z menyebut yang fake
Istilah polyester jadi cara Gen Z menyebut yang fake

JAKARTA — istilah polyester sedang dipakai Gen Z untuk menyebut sesuatu yang terasa fake, murah, dan dibuat-buat. Di internet, kata ini menempel ke banyak hal: brand influencer yang generik, video yang terlalu dipoles, sampai hubungan yang terasa artifisial.

Maknanya berangkat dari citra kain polyester yang di dunia online kerap dianggap identik dengan bahan sintetis, kilap berlebih, dan kesan mass-produced. Bukan berarti semua polyester jelek. Tapi dalam perbincangan fashion dan budaya digital, kata itu sudah telanjur jadi sindiran untuk sesuatu yang tampak rapi di permukaan, namun terasa hampa di dalam.

Kenapa istilah polyester cepat nyambung ke Gen Z

Bahasa internet memang suka memendekkan penilaian. Sekali kata ketemu irama yang pas, ia langsung menyebar. Begitu juga dengan polyester. Kata ini mudah dipahami tanpa perlu penjelasan panjang. Ada rasa licin, ada kesan murah, ada sentilan soal keaslian. Semua tersusun di satu kata.

Di kalangan pembeli muda, polyester juga punya riwayat yang buruk di dunia fashion. Banyak anak muda sudah lama mengeluhkan bahan itu ketika muncul di pakaian mahal, lalu memilih mengosongkan lemari dan mencari katun, wol, atau bahan alami lain. Dari sana, polyester merembet dari sekadar nama serat menjadi simbol selera yang dianggap tidak autentik.

“Polyester is not necessarily low-quality,” tulis bahan sumber, sambil menegaskan bahwa versi material ini juga punya kegunaan yang sah, termasuk untuk pakaian olahraga. Tapi di ranah diskusi mode online, kata itu lebih sering dipakai sebagai pintasan untuk fast fashion yang murah dan mengilap. Sentilannya kena. Cepat.

Dari fan edit TikTok sampai sindiran ke influencer

Sebelum dipakai untuk menyindir gaya hidup, polyester lebih dulu muncul di ruang edit video. TikTok mengenal istilah “polyester edits” untuk gaya fan video yang diedit agresif, menampilkan karakter seperti Spider-Man dan Iron Man dengan pose yang ditumpuk di atas cuplikan yang berkedip cepat.

Video seperti itu biasanya dipasangkan dengan musik metalik dan efek visual yang padat. Hasilnya ramai, pusing, tapi justru cocok dengan sensasi berlebihan yang ingin dibangun. Di sinilah kata polyester mulai menjauh dari makna bahan kain, lalu menempel ke estetika yang terasa terlalu sintetis.

Setelah itu, istilah ini keluar dari lingkaran editing. Streamer dan influencer yang menjual merchandise 100 persen polyester ikut kena sindiran. LowTierGod bahkan mendapat julukan “the Polyester Prince”. Kreator lain menertawakan sosok pengguna polyester dengan outfit nyaring penuh motif, seperti celana galaxy dan wolf shirt. Arah ejekannya jelas: tampil terlalu keras, tapi tetap terasa palsu.

Singkat. Pedas.

So what: kenapa istilah ini relevan buat pembaca

Istilah polyester menunjukkan bagaimana internet kini tidak cuma menilai isi, tapi juga rasa dari sebuah konten atau persona. Di era AI-generated posts, deepfake, produk dropship, dan gaya hidup yang seolah dirancang algoritma, kata ini menemukan panggungnya sendiri. Ia dipakai untuk menandai sesuatu yang terasa diproduksi, bukan tumbuh alami.

Buat pembaca, ini berguna untuk membaca ulang cara bahasa berkembang di media sosial. Satu kata bisa pindah fungsi dengan cepat: dari bahan pakaian, jadi sindiran gaya hidup; dari fashion, masuk ke kritik konten; dari TikTok, merembet ke percakapan tentang keaslian.

Itulah yang membuat bahasa Gen Z sering terasa tajam. Mereka tidak sekadar bilang “jelek” atau “palsu”. Mereka memilih kata yang membawa citra, sejarah, dan rasa yang lebih rumit.

Polyester juga masuk ke barisan istilah lain yang menilai sesuatu sebagai palsu atau generik.

Ada “larping” untuk orang yang mengadopsi identitas demi perhatian, “performative” untuk sikap yang terlalu ingin terlihat, “industry plant” untuk sukses yang terasa dibuat-buat, dan “NPC” untuk orang yang dianggap tidak punya orisinalitas.

Lalu ada “slop” untuk konten berkualitas rendah yang diproduksi massal, terutama oleh AI, serta “Temu version” untuk tiruan murah dari sesuatu yang lebih terkenal.

Di antara semua itu, polyester punya posisi unik. Ia bukan cuma soal kualitas. Ada penilaian moral kecil di sana. Sesuatu bisa saja asli, tapi tetap terasa polyester bila tampak norak, sekali pakai, atau disusun dari tren yang sedang laku. Maknanya mendekat ke slop, tapi dengan label komposisi bahan. Atau seperti Temu, tanpa perlu menyebut tokonya.

Karena itu, kata ini cocok sekali untuk internet yang makin penuh konten hasil rakitan, citra yang terlalu licin, dan persona yang terasa dijahit cepat. Namun ada ironi yang tak bisa dihindari: makin sering polyester dipakai untuk mencela semua yang tidak disukai, makin murah pula kata itu sendiri. Ia bisa ikut jadi generik. Ikut terasa pabrik.

Olivia Tauber, yang menulis analisis ini dalam The New York Times, menutup profilnya dengan latar sebagai deputy editor of digital culture. Dari sana terlihat kenapa istilah seperti polyester bisa cepat menempel ke percakapan online: kata ini lahir dari budaya digital yang makin piawai membedakan mana yang terasa hidup, dan mana yang cuma tampak hidup.

“From there, ‘polyester’ became less about what something was made from and more about its overall spiritual composition,” tulis bahan sumber. Kalimat itu pas sekali menangkap arah baru slang ini. Bukan kainnya yang jadi pusat. Melainkan rasa palsunya.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 19 Agustus 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir