Kamis, 20 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Wabah Ebola di Kongo Tembus 5.021 Kasus, 2.378 Meninggal

Wabah Ebola di Kongo Tembus 5.021 Kasus, 2.378 Meninggal
Wabah Ebola di Kongo Tembus 5.021 Kasus, 2.378 Meninggal

ABUJA — wabah Ebola di Kongo telah melampaui 5.000 kasus terkonfirmasi dan kini menjadi salah satu wabah penyakit mematikan terbesar yang pernah tercatat. Kementerian Kesehatan Kongo pada Minggu mencatat 5.021 kasus, termasuk 2.378 kematian.

Wabah ini dipicu virus Bundibugyo, jenis Ebola langka yang belum memiliki vaksin atau perawatan yang disetujui. Situasinya membuat otoritas kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, tetap waspada penuh.

Virus langka, dampaknya besar

Bundibugyo bukan nama yang sering muncul dalam pembahasan Ebola. Tapi kali ini, virus itu mencatatkan sejarah kelam: ini menjadi wabah terburuk yang disebabkannya, sekaligus yang paling mematikan dalam sejarah Ebola di Kongo.

WHO bahkan memperingatkan wabah ini bisa melampaui krisis besar Ebola di Afrika Barat pada 2014-2016, yang menewaskan lebih dari 11.000 orang. Angka itu masih jadi pembanding utama ketika dunia menilai seberapa jauh penyebaran di Kongo akan berkembang.

Virus Bundibugyo pertama kali diidentifikasi saat wabah di Uganda barat pada 2007. Saat itu, 37 orang meninggal. Satu-satunya wabah lain yang diketahui terjadi di Kongo pada 2012. Keduanya jauh lebih kecil dibanding lonjakan kasus yang sekarang.

Bagaimana penularannya

Ebola adalah penyakit langka tetapi kerap fatal. Virusnya diyakini berasal dari hewan, lalu bisa berpindah ke manusia lewat kontak dengan hewan terinfeksi.

Dari manusia ke manusia, penularan terjadi lewat kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh lain dari orang yang sakit atau yang sudah meninggal akibat Ebola. Virus ini juga bisa menyebar lewat benda yang terkontaminasi cairan itu.

Beda dengan penyakit pernapasan seperti COVID-19, Ebola tidak umumnya menyebar lewat udara. WHO juga menyebut orang yang terinfeksi tidak menularkan virus sebelum gejala muncul. Gejalanya bisa muncul dalam rentang dua sampai 21 hari setelah terpapar.

Masalahnya, Ebola sering sulit dibedakan dari penyakit infeksi lain tanpa tes laboratorium. Gejala awalnya mirip malaria dan tipus. Ini membuat deteksi dini jadi sangat penting.

Kosongnya opsi vaksin dan obat khusus

Untuk jenis Ebola yang lebih umum, vaksin dan terapi antibodi sudah dikembangkan. Namun, untuk Bundibugyo, keduanya belum disetujui.

Artinya, pasien saat ini terutama bergantung pada perawatan suportif, seperti cairan, penanganan gejala, dan penanganan komplikasi. Uji klinis memang sedang berjalan, tetapi belum ada pilihan yang disetujui untuk dipakai luas.

Ini yang membuat wabah Ebola di Kongo terasa jauh lebih berat. Tanpa perlindungan khusus, beban terbesar ada pada deteksi cepat, isolasi, pelacakan kontak, dan pencegahan penularan di fasilitas kesehatan maupun saat pemakaman.

Bagi sistem kesehatan, situasinya jelas menekan. Bagi warga di wilayah terdampak, penyakit ini bukan cuma soal angka di laporan harian. Setiap keterlambatan diagnosis bisa berarti rantai penularan baru, sementara akses ke layanan medis yang aman ikut menentukan peluang bertahan hidup.

Awal wabah dan penyebaran lintas wilayah

Pasien pertama yang terdeteksi mulai sakit pada akhir April dan meninggal di Bunia, ibu kota provinsi Ituri di timur laut Kongo. Wilayah itu dikenal rawan ketidakamanan, pengungsian, dan pergerakan penduduk yang padat.

Pada awal Mei, petugas kesehatan mendapat laporan klaster penyakit yang belum terjelaskan di sekitar Mongbwalu, kawasan tambang emas yang ramai di dekat Bunia. Pemeriksaan laboratorium kemudian mengidentifikasi virus Bundibugyo, dan Kongo mengumumkan wabah pada 15 Mei.

Pejabat kesehatan meyakini virus itu mungkin sudah menyebar berbulan-bulan sebelum pengumuman resmi keluar. Mayoritas kasus memang masih dilaporkan di Ituri, tetapi penyebaran sudah melampaui provinsi itu karena orang yang terinfeksi melakukan perjalanan ke wilayah lain.

Virus juga menyeberang ke Uganda, lalu penularannya dihentikan, menurut WHO. Pada Juni, satu kasus terkonfirmasi juga tercatat di Prancis pada seorang dokter yang pulang dari Kongo. Ia kemudian pulih dan dipulangkan dari rumah sakit.

Kenapa wabah Ebola ini jadi perhatian dunia

WHO menyebut risiko penyebaran lanjutan di dalam Kongo dan secara internasional masih tinggi. Karena itu, pada Mei lembaga itu menetapkan wabah ini sebagai public health emergency of international concern, level peringatan kesehatan global tertinggi dalam aturan kesehatan internasional.

Status itu bukan berarti Ebola menyebar global seperti COVID-19. Namun, WHO ingin sinyal respon terkoordinasi bergerak cepat karena wabah ini dinilai membawa risiko kesehatan internasional yang serius.

WHO juga menolak pembatasan perjalanan atau perdagangan yang luas. Menurut lembaga itu, pembatasan semacam itu bisa mengganggu rantai pasok dan menyulitkan pergerakan tenaga kesehatan, suplai medis, dan sumber daya lain yang dibutuhkan untuk menekan wabah.

Untuk saat ini, satu hal masih sama: wabah Ebola di Kongo terus membesar, sementara penanganan bertumpu pada kecepatan menemukan kasus, mengisolasi pasien, dan memutus penularan sebelum angka kematian bertambah lagi. Seperti ditegaskan WHO, risiko penyebaran masih tinggi.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda