Sabtu, 22 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Raisa Bawakan ‘Cahaya Hati’, Awal Perjalanan Srikandi di Pagelaran Sabang Merauke

Raisa membawakan Cahaya Hati di latihan terbuka
Raisa membawakan Cahaya Hati pada sesi latihan terbuka Pagelaran Sabang Merauke di Jakarta, Selasa (4/8/2026). (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Cahaya Hati untuk pertama kalinya diperdengarkan ke publik lewat sesi latihan terbuka Pagelaran Sabang Merauke – Hanya Indonesia yang Punya di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Lagu anyar yang dibawakan Raisa Andriana itu menjadi pintu masuk menuju pertunjukan kolosal bertema Hikayat Srikandi Nusantara yang akan digelar pada 21 hingga 23 Agustus 2026 di Indonesia Arena, Jakarta.

Momen ini terasa penting bukan cuma karena statusnya sebagai penampilan perdana, tapi juga karena lagu tersebut langsung ditempatkan sebagai bagian dari narasi besar panggung. Publik yang hadir mendapat cuplikan awal dari arsitektur musikal pertunjukan yang memang dirancang jauh lebih luas daripada sekadar satu single pop.

Cahaya Hati dan wajah baru Srikandi

Dalam materi yang dipresentasikan iForte dan Protelindo Group, Raisa memegang peran ikonik sebagai Srikandi. Ia membawakan Cahaya Hati sebagai tembang persembahan yang dirancang untuk menyatu dengan alur cerita, bukan berdiri sendiri sebagai lagu lepas yang ditempelkan ke panggung.

Di sesi latihan terbuka itu, penonton juga melihat arah musikal yang disiapkan untuk keseluruhan pagelaran. Aransemen orkestra, paduan suara, dan dentang dari 50 jenis alat musik tradisional Nusantara disatukan dalam satu rangkaian besar. Rasa megahnya jelas, tapi nuansa hangatnya tetap terasa.

Bali Antaranews menuliskan bahwa Raisa juga menyebut lagu itu sebagai inti dari semangat Srikandi, tempat tokoh itu membagikan semangat kepada pasukan maupun penonton. Sudut itu sejalan dengan cara panggung ini dibangun: bukan hanya merayakan cerita, tapi juga menyuntikkan emosi ke setiap lapisan pertunjukan.

Produksi besar, kerja kolektif yang rapi

Skala Pagelaran Sabang Merauke tahun ini memang tidak kecil. Republika mencatat sedikitnya 1.700 pelaku seni, tim kreatif, dan kru produksi terlibat dalam pengerjaannya. Di dalamnya ada 15 penyanyi, satu grup band, 387 penari, puluhan musisi tradisional, 119 penyanyi paduan suara dari Batavia Madrigal Singers, serta 60 musisi orkestra.

Angka itu memberi gambaran seberapa banyak tenaga yang digerakkan hanya untuk satu pertunjukan. Ada 11 tim koreografer yang menyiapkan 103 koreografi lintas Nusantara. Ada pula 16 desainer kostum yang menggarap busana untuk 28 lagu daerah dan nasional. Semua unsur itu disusun agar pertunjukan tak jatuh jadi parade visual semata, melainkan benar-benar hidup dari awal sampai akhir.

Nama-nama besar industri musik Tanah Air ikut hadir dalam proses produksi. Republika menyebut Yura Yunita, PADI Reborn, Eross Candra, Joey Penny, Mirabeth Sonia, Christine Tambunan, Alicia Hartono, hingga Yuyun Arfah terlibat di dalamnya. Di bawah pengarah musik Elwin Hendrijanto dan konduktor Avip Priatna, lapisan pop, orkestra, dan musik tradisi dipadukan menjadi satu bunyi yang utuh.

Kenapa Cahaya Hati penting untuk penonton

Di balik lagu itu, tersimpan pesan yang dekat dengan banyak orang. Vice President Director & Deputy CEO iForte sekaligus penulis lirik Cahaya Hati, Silvi Liswanda, mengatakan karya ini lahir dari upaya menerjemahkan keteguhan figur legendaris ke dalam konteks masa kini. Ia tak ingin lagu itu berhenti sebagai pelengkap panggung.

“Kami tidak ingin ‘Cahaya Hati’ hanya menjadi lagu untuk sebuah pertunjukan. Lagu ini lahir dari semangat keberanian, keteguhan hati, pengorbanan, dan harapan yang diwakili sosok Srikandi, tetapi pihaknya ingin nilai-nilai tersebut tetap terasa dekat dengan kehidupan saat ini,” kata Silvi.

Dampaknya terasa langsung bagi penonton dan industri pertunjukan. Buat penikmat musik, lagu ini menawarkan satu pintu untuk masuk ke cerita yang lebih besar.

Buat industri, produksi seperti ini menunjukkan bahwa panggung Indonesia bisa menggabungkan musik pop, tradisi, paduan suara, orkestra, dan koreografi skala besar tanpa kehilangan identitas. Dan buat Pagelaran Sabang Merauke sendiri, kehadiran lagu baru memberi energi baru menjelang hari pementasan.

Presiden Direktur dan CEO iForte & Protelindo Group, F Aming Santoso, juga menegaskan peran musik dalam membangun suasana. Menurut dia, musik punya kemampuan menyampaikan emosi bahkan sebelum dialog dimulai.

“Pada tahun ini masyarakat untuk pertama kalinya dapat mendengarkan Cahaya Hati, namun yang mereka saksikan hari ini hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan pengalaman musikal yang akan hadir dalam pertunjukan kolosal spektakuler Pagelaran Sabang Merauke – Hanya Indonesia yang Punya: Hikayat Srikandi Nusantara,” ujarnya di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

Kalimat itu sekaligus jadi penanda bahwa latihan terbuka kemarin baru permulaan. Panggung utamanya masih menunggu, dan Cahaya Hati sudah lebih dulu membuka jalan.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 22 Agustus 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir