Sabtu, 22 Agustus 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

YPMAK pastikan masyarakat Wapu terima layanan kesehatan berkualitas

YPMAK pantau layanan kesehatan berkualitas di Wapu
YPMAK memantau Program Kampung Sehat di Kampung Wapu untuk memastikan layanan kesehatan berkualitas sampai ke warga. (Ilustrasi: AI)

WAPU — Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) melakukan monitoring dan evaluasi Program Kampung Sehat di Kampung Wapu, Distrik Jita, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada Jumat (21/8/2026) untuk memastikan layanan kesehatan berkualitas benar-benar sampai ke warga.

Langkah itu diambil karena Wapu masih berada di wilayah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas. Program yang dikelola YPMAK melalui dana kemitraan PT Freeport Indonesia itu juga dipakai untuk melihat sejauh mana warga menerima layanan dari mitra yang bekerja di lapangan.

Layanan kesehatan berkualitas di Wapu jadi fokus monev

Kepala Divisi Monitoring dan Evaluasi Kesehatan YPMAK, Riana Wadibar, mengatakan monev dilakukan untuk melihat mutu layanan dan dampaknya bagi masyarakat. Ia menilai pemeriksaan lapangan penting agar program yang dijalankan tidak berhenti pada laporan, tetapi benar-benar terasa manfaatnya di kampung.

“Sebenarnya tujuan kita melakukan monitoring untuk kegiatan program yang dijalankan oleh YPMAK ini supaya mau tahu seperti apa layanan yang sudah diberikan kepada masyarakat. Terus sejauh mana masyarakat menerima layanan yang diberikan oleh mitra kami,” kata Riana.

Riana menegaskan, mitra YPMAK berperan sebagai perpanjangan tangan dalam menjangkau daerah yang jauh dan cukup terisolir. Di wilayah seperti itu, kata dia, keberadaan tenaga layanan menjadi penopang penting agar warga tetap mendapat akses kesehatan dasar.

Program Kampung Sehat di Wapu sendiri sudah berjalan sejak akhir 2024. Penempatan program di kampung itu lahir dari tindak lanjut atas permintaan masyarakat, setelah sebelumnya layanan sempat ditempatkan di Waituku, Blumen, dan Sumapro.

Dari permintaan warga sampai kebutuhan pengobatan malaria

Peralihan lokasi layanan ke Wapu memperlihatkan satu hal sederhana: program kesehatan tidak bisa dipasang dari jauh tanpa membaca kebutuhan setempat. Warga ikut menentukan arah pelayanan, dan YPMAK mencoba menyesuaikan penempatan program dengan permintaan yang datang dari kampung.

Dalam monev itu, YPMAK juga ingin melihat penerimaan masyarakat terhadap program sekaligus dampak yang mereka rasakan. Riana menanyakan apakah warga merasa tertolong dengan layanan yang hadir di kampung mereka. Pertanyaan itu penting. Soalnya, ukuran berhasil atau tidaknya program bukan cuma ada petugas di lokasi, tetapi juga perubahan yang dirasakan penerima manfaat.

Riana menyebut ada dorongan lain yang masih perlu diperkuat, yakni kemandirian masyarakat dalam mendukung pengobatan, termasuk penanganan malaria. Ia menilai pengawasan minum obat atau PMO seharusnya bertumpu pada partisipasi warga, meski dalam praktiknya belum sepenuhnya berjalan.

“PMO (pengawas menelan obat) itu kan sebenarnya harusnya kemandirian masyarakat, tetapi mungkin belum 100 persen, sehingga itu kita dorong juga supaya pengobatan. Contoh malaria, itu bisa tertangani dengan baik,” sebutnya.

Dampak langsung bagi warga dan petugas lapangan

Bagi masyarakat Wapu, pengawasan seperti ini punya arti praktis. Program kesehatan yang dipantau ketat membuat layanan yang datang ke kampung tidak mudah melenceng dari kebutuhan warga. Di daerah yang aksesnya terbatas, satu petugas yang tepat, obat yang tersedia, dan alur layanan yang rapi bisa menentukan apakah warga tertangani lebih cepat atau tetap menunda berobat.

Di saat yang sama, YPMAK juga menyoroti kondisi petugas lapangan yang memberi layanan kesehatan di Wapu. Saat ini, para petugas masih menempati gedung gereja karena keterbatasan akomodasi. Situasi itu dinilai belum ideal untuk mendukung kerja layanan yang berkelanjutan.

Riana mengaku prihatin dengan kondisi tersebut dan berharap ke depan tersedia rumah yang lebih layak bagi petugas. Ia menilai tempat tinggal yang baik akan membantu kenyamanan kerja, yang pada ujungnya ikut memengaruhi pelayanan kepada warga.

“Saya hanya merasa cukup prihatin dengan teman-teman yang memang untuk akomodasi atau tempat tinggalnya masih sangat terbatas. Seperti kita lihat mereka sekarang kan menempati gereja,” ucap Riana.

Ia menambahkan, “Walaupun sebenarnya ini cukup luar biasa, tapi saya harap ke depannya mungkin bisa lebih baik lagi.”

YPMAK mengapresiasi para petugas yang tetap menjalankan pelayanan kesehatan di tengah keterbatasan fasilitas di Kampung Wapu, sambil berharap pembenahan akomodasi bisa segera menyusul agar layanan di kampung itu berjalan lebih optimal ke depan.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda