Anggota Fraksi Demokrat DPRD Jatim, Rasiyo, punya pandangan serupa. Ia menilai bahwa kehadiran fisik kader di tengah masyarakat adalah kunci dari komunikasi politik yang humanis. Menurutnya, citra partai tidak bisa dibangun hanya lewat baliho atau spanduk di jalanan. Harus ada interaksi nyata yang menyentuh keseharian warga.
“Kalau lomba menghadirkan masyarakat dan kami hadir di tengah mereka, otomatis terjadi komunikasi. Masyarakat bisa mengenal kader dan Partai Demokrat,” ucap Rasiyo saat memantau jalannya perlombaan. Baginya, ketika jarak sudah menipis, warga akan lebih percaya diri menyampaikan kebutuhan mendesak mereka, mulai dari masalah harga bahan pokok hingga lapangan pekerjaan.
Politik tidak selamanya harus tegang. Sesekali, lewat keringat lomba tarik tambang dan sorak sorai penonton, kebijakan publik justru dibicarakan dengan lebih cair. Upaya menyerap aspirasi ini pun tak berhenti saat bendera finish dikibarkan.
Partai Demokrat Jatim memastikan bahwa catatan-catatan kecil yang dikumpulkan dari warga di seluruh pelosok Jawa Timur akan menjadi bekal utama mereka dalam mengawal aspirasi rakyat di kursi legislatif.
Ke depannya, pola jemput bola seperti ini bakal terus dilakukan. Partai berencana menjadikan kunjungan lapangan sebagai mekanisme kerja tetap untuk memastikan bahwa suara dari akar rumput tidak hilang tertelan hiruk-pikuk dinamika politik di ibu kota provinsi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.