Minggu, 23 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

UK Kaji Obat Penekan Libido untuk Pelaku Kejahatan Seksual

Obat penekan libido untuk pelaku kejahatan seksual di Inggris
Wacana obat penekan libido kembali dibahas untuk menangani pelaku kejahatan seksual di Inggris dan Wales, menurut The Guardian. (Ilustrasi: AI)

LONDON — obat penekan libido sedang dikaji di Inggris dan Wales untuk menangani pelaku kejahatan seksual. Wacana itu mencuat setelah The Guardian melaporkan bahwa sejumlah napi dengan problematic sexual arousal bisa mendapat obat untuk menekan dorongan seksual mereka.

Isu ini bukan cuma soal terapi. Di beberapa negara, perlakuan semacam itu sudah diwajibkan oleh dewan pembebasan bersyarat, tetapi sebagian pihak menilai praktiknya tidak etis. Perdebatan itu ikut membuka pertanyaan lama: sejauh mana negara boleh ikut campur dalam hasrat seksual seseorang demi mencegah kekerasan berulang.

Ketika bayangan seksual memenuhi pikiran napi

Menurut Prof Belinda Winder, psikolog forensik yang meneliti penggunaan obat untuk mengontrol libido, sebagian tahanan dengan problematic sexual arousal mengalami kondisi yang sangat berat. Ia menggambarkan bahwa “images of sex flood their minds” sepanjang jam-jam mereka terjaga.

Winder juga menceritakan percakapan dengan seorang pria beberapa minggu setelah mulai minum obat. Sang pria mengatakan, “It’s amazing. I followed a film plot. I wasn’t just looking for when I could see bra straps, when I could see nipples, when someone’s going to bend over so I could see their bum.”

Perdebatan etika ikut menguat

Keterangan itu menunjukkan mengapa obat penekan libido menarik perhatian para peneliti dan penegak hukum. Di satu sisi, obat itu dipandang bisa membantu mengurangi dorongan yang berpotensi memicu pelanggaran. Di sisi lain, penanganan tubuh dan hasrat dengan cara farmakologis memunculkan pertanyaan etika yang tidak kecil.

The Guardian menyebut, treatment seperti ini sudah diterapkan oleh parole boards di sejumlah negara. Namun, tidak semua orang sepakat. Sebagian pihak menilai pemaksaan atau tekanan untuk mengambil terapi seperti itu bisa melanggar otonomi pribadi, terutama jika dijadikan syarat bebas bersyarat.

Kenapa isu ini penting dibahas

Bagi sistem pemasyarakatan, wacana obat penekan libido menyentuh dua target sekaligus: mengurangi risiko pengulangan kejahatan dan mencari cara perawatan yang dianggap lebih efektif untuk napi dengan problematic sexual arousal. Bagi publik, isu ini menyangkut rasa aman, batas campur tangan negara, dan standar perlakuan terhadap pelaku kejahatan seksual.

Di Inggris dan Wales, kabar ini juga menandai bahwa pendekatan terhadap pelaku kejahatan seksual tidak lagi berhenti pada hukuman semata. Ada dorongan untuk melihatnya sebagai masalah klinis dan perilaku yang, setidaknya untuk sebagian kasus, ditangani lewat terapi medis. Tapi justru di titik itu perdebatan makin panas. Apakah itu perawatan, atau bentuk kendali yang terlalu jauh?

Yang sedang dicari para peneliti

Dari keterangan yang dikutip The Guardian, penggunaan obat untuk menekan libido masih berada dalam ruang eksplorasi dan evaluasi. Prof Belinda Winder menjadi salah satu figur yang menilai pendekatan itu dalam kerja forensic psychology, terutama pada tahanan yang menghadapi dorongan seksual yang sulit dikendalikan.

Dengan kata lain, diskusi ini belum berhenti pada satu jawaban. Inggris dan Wales sedang menimbang pilihan yang sensitif, sementara pengalaman dari negara lain sudah menunjukkan bahwa praktik serupa bisa dipakai, namun tetap memunculkan penolakan keras dari sebagian kalangan.

“I remember talking to one guy a few weeks after he started taking the medication,” kata Winder, mengulang pengalamannya saat melihat perubahan perilaku seorang pria setelah menjalani terapi itu.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda