Kamis, 20 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Aplikasi Visa Pelajar Inggris Turun 11%, Universitas Khawatir Keuangan

Grafik penurunan aplikasi visa pelajar Inggris menunjukkan tren menurun pada layar komputer kantor universitas
Data Home Office mencatat penurunan 11% aplikasi visa pelajar Inggris, memicu kekhawatiran universitas tentang keberlanjutan finansial (Ilustrasi). (Ilustrasi: AI)

Deretan kampus di Inggris kini berada dalam posisi terjepit. Data terbaru dari Home Office menunjukkan aplikasi visa pelajar di negara tersebut merosot tajam sebesar 11 persen menjadi 381.500 dalam kurun waktu satu tahun hingga Juli 2026.

Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm bahaya bagi stabilitas finansial sektor pendidikan tinggi yang selama ini sangat bergantung pada devisa mahasiswa asing.

Kondisi paling mencolok terlihat pada kategori visa bagi keluarga mahasiswa. Permohonan dari tanggungan siswa terjun bebas menjadi 19.200 dalam 12 bulan terakhir.

Jika ditarik mundur ke Desember 2023, tepat sebelum pemerintah setempat memperketat aturan, penurunan ini mencapai angka fantastis 87 persen. Kebijakan yang dulunya bertujuan membatasi arus migrasi, kini justru menjadi bumerang bagi kas universitas.

Aturan Ketat yang Menekan

Pemerintah Inggris memang tidak main-main. Sejak Juni lalu, otoritas setempat memberlakukan standar kepatuhan visa yang jauh lebih ketat.

Universitas kini dibebani target pendaftaran siswa yang sulit dijangkau, sembari dipaksa menjaga tingkat penolakan visa tetap berada di bawah ambang batas 5 persen. Belum lagi pemangkasan periode visa lulusan yang membuat daya tawar Inggris di mata pelajar global kian memudar.

Efek dari regulasi ini sudah terbaca jelas. Laporan dari konsultan pendidikan Navitas per 11 Agustus menunjukkan minat pelajar dunia terhadap Inggris sedang berada di titik nadir. Para agen rekrutmen melaporkan lebih dari tiga perempat calon siswa kini mulai melirik negara tujuan di luar empat pasar tradisional utama, yakni Inggris, Amerika Serikat, Australia, dan Kanada.

Di lorong-lorong kampus, kecemasan mulai terasa nyata. Pihak universitas kini menahan napas, memantau data Agustus dengan saksama. Bulan ini biasanya menjadi periode paling krusial bagi aplikasi visa menjelang tahun ajaran baru. Jika arus pendaftaran terus menyusut, dampaknya bukan hanya soal kursi kosong di ruang kelas.

Lisa Randall, partner dan kepala nasional pendidikan tinggi di firma RSM UK, memberikan peringatan keras. Menurutnya, penurunan berkelanjutan ini bakal memaksa banyak universitas untuk merombak total rencana jangka panjang mereka. “Institusi mungkin akan memangkas investasi domestik dan terpaksa mencari peruntungan dengan memperluas operasi di luar negeri demi menutupi defisit,” ujarnya.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda