JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Saham empat bank terbesar Indonesia kompak melemah pada penutupan perdagangan Senin, 24 Agustus 2026, dengan BBRI mencatat koreksi paling dalam yakni 1,55% ke level Rp3.180.
IHSG ikut tertekan, turun 24,02 poin atau 0,37% ke 6.501,67. Tekanan jual merata di saham-saham perbankan besar — BBNI kehilangan 1,34%, BBCA 0,78%, dan BMRI 0,47%. Satu hari, empat bank, semua merah.
Data Penutupan 24 Agustus 2026
Berikut ringkasan lengkap harga penutupan Big 4 Banks pada pukul 16.14 WIB:
| Emiten | Harga | Perubahan | Open | High | Low | Dividen | P/E | Market Cap |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| BBCA | Rp6.400 | -0,78% | 6.450 | 6.450 | 6.350 | 5,38% | 13,56 | Rp781,07T |
| BMRI | Rp4.200 | -0,47% | 4.220 | 4.220 | 4.170 | 11,36% | 6,29 | Rp388,08T |
| BBRI | Rp3.180 | -1,55% | 3.230 | 3.240 | 3.160 | 10,88% | 8,19 | Rp477,14T |
| BBNI | Rp3.680 | -1,34% | 3.730 | 3.740 | 3.650 | 9,49% | 6,63 | Rp135,88T |
BBRI jadi perhatian utama hari ini. Saham bank BUMN terbesar dari sisi aset ini dibuka di Rp3.230, sempat menyentuh high Rp3.240, sebelum tergerus hingga ke low Rp3.160 dan ditutup di Rp3.180.
Kenapa Semuanya Turun?
Ada tiga faktor yang menekan harga saham Big 4 Banks serentak hari ini.
Pertama, IHSG yang melemah 0,37% jelas menekan sentimen pasar secara umum — dan saham perbankan, sebagai konstituen terbesar indeks, langsung kena imbasnya. Kedua, aksi profit taking. Saham-saham bank sudah naik cukup signifikan sejak awal tahun, dan investor besar mulai mencairkan keuntungan.
Ketiga — dan ini yang membuat pasar cenderung menahan diri — keputusan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia di September belum jelas. Pasar memilih wait and see. Ketidakpastian itu mahal harganya bagi saham sensitif suku bunga seperti perbankan.
Support IHSG di level 6.474 menjadi kunci yang kini terus dipantau pelaku pasar. Bila level itu tembus, tekanan terhadap saham Big 4 Banks bisa berlanjut.
Fundamental Masih Solid
Koreksi satu hari tidak mengubah gambaran fundamental. Keempat bank ini mencatat kinerja yang cukup kuat di kuartal terbaru.
BBCA membukukan revenue Q2 2026 sebesar Rp27,53 triliun, tumbuh 2,48% secara tahunan. Valuasinya paling mahal di antara keempat bank dengan P/E 13,56 — mencerminkan premi yang pasar bayar untuk stabilitas dan kualitas aset BCA yang konsisten.
BMRI justru menarik dari sisi valuasi. Revenue Q2 2026 memang turun 5,4% year-on-year ke Rp31,59 triliun, tapi EPS-nya justru melampaui ekspektasi analis sebesar 10,32%. P/E 6,29 adalah yang paling murah di antara Big 4, dan yield dividennya 11,36% — tertinggi di kelompok ini.
BBRI mencatat pertumbuhan revenue paling agresif. Revenue Q1 2026 mencapai Rp37,47 triliun, tumbuh 16,32% year-on-year dengan EPS beat 2,94%. Yield dividen 10,88% dan market cap Rp477,14 triliun membuatnya tetap jadi saham favorit investor ritel.
BBNI melengkapi gambaran dengan revenue Q2 2026 Rp13,08 triliun, naik 9,85% year-on-year dan EPS beat tipis 0,15%. P/E 6,63 dengan yield dividen 9,49% menempatkan BBNI sebagai pilihan value yang kerap diabaikan tapi menarik secara fundamental.
Dividen 10% Lebih di Tengah Koreksi
Bagi investor jangka panjang, koreksi hari ini justru mempertegas satu hal: yield dividen Big 4 Banks makin menarik saat harga turun. BMRI menawarkan 11,36%, BBRI 10,88%, BBNI 9,49%, dan BBCA 5,38%.
Dari sisi valuasi, BMRI dengan P/E 6,29 dan BBNI dengan P/E 6,63 masuk kategori murah secara historis untuk bank sekelas ini. BBRI unggul di pertumbuhan revenue. BBCA tetap jadi pilihan konservatif dengan fundamental paling stabil meski harganya paling premium.
Analis menilai level harga saat ini sebagai area akumulasi yang menarik untuk perspektif jangka panjang, dengan fokus pada yield dividen dan valuasi yang masih di bawah rata-rata historis.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.