Selasa, 25 Agustus 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

Di Depan Jokowi, Ketum Projo Lempar Wacana amp;quot;Percepatan Politikamp;quot; Sebelum 2029

Ketua Umum Relawan Projo Budi Arie menyampaikan pidato di hadapan peserta acara
Budi Arie Setiadi, Ketua Umum Relawan Projo, menyampaikan wacana percepatan dinamika politik sebelum Pemilu 2029. (Ilustrasi: AI)

Budi Arie Setiadi baru saja memantik api diskusi panas di lingkaran internal pendukung Presiden Joko Widodo. Di hadapan orang nomor satu di Indonesia tersebut, Ketua Umum Relawan Projo ini blak-blakan melempar wacana soal kemungkinan terjadinya “percepatan sejarah” politik tanah air yang bisa saja memotong alur waktu menuju Pemilu 2029.

Kabar ini mencuat setelah potongan video pidato Budi Arie diunggah oleh Guru Besar Hukum Tata Negara, Denny Indrayana, di akun Instagram pribadinya. Dalam rekaman tersebut, Budi tampak cukup emosional saat bicara soal insting politiknya di depan anggota Projo dan disaksikan langsung oleh Presiden Jokowi.

Mempertanyakan Skenario 2029

Suasana pertemuan yang semula formal mendadak intens ketika Budi Arie menyinggung soal jadwal pemilu. Ia mengaku sudah membisikkan kecurigaannya langsung kepada Jokowi. Budi merasa situasi di lapangan saat ini bergerak jauh lebih liar dibandingkan skenario politik konvensional yang sudah dirancang selama lima tahunan.

“Tadi saya sudah bisik ke Pak Jokowi. Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029? Apakah kita mau? Belum tentu kita mau, kita masih ngomong pemilu 2029-pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap nggak?” cetus Budi Arie di atas panggung. Pertanyaan retoris itu langsung dijawab gemuruh teriakan “siap” dari ratusan relawan yang hadir.

Bagi Budi, menjadi politisi atau relawan tidak bisa hanya berpangku tangan pada jadwal yang tertulis di kalender KPU. Ia meminta pasukannya untuk tidak terlena dengan kenyamanan skenario yang sudah ada. Baginya, politik bukan sekadar hitung-hitungan administratif, tapi soal membaca gelombang yang bisa berubah arah sewaktu-waktu.

Bayang-bayang Reformasi 1998

Untuk memperkuat argumennya, Budi Arie membawa memori kolektif bangsa kembali ke tahun 1998. Ia menarik garis lurus antara situasi sosial saat ini dengan masa transisi yang memaksa pemilu dipercepat dari jadwal seharusnya pasca-1997 menjadi tahun 1999.

Ia menyoroti munculnya riak-riak di daerah, seperti demonstrasi di Pati hingga aksi tandingan di Madura. Baginya, fenomena ini adalah tanda-tanda alam yang tidak bisa diabaikan. Ia bahkan secara gamblang menyebut situasi sekarang mengingatkannya pada era Pam Swakarsa di penghujung kekuasaan Orde Baru.

“Saya pengalaman dengan gerak sejarah. Ini ada anomali di masyarakat sekarang. Ada demo Pati, Madura ikut demo tandingan. Ah, ini sudah kayak Pam Swakarsa ’98 nih. Pasti kalah yang preman,” tuturnya dengan nada meyakinkan.

Menanti Patahan Sejarah

Analisis Budi Arie tidak berhenti pada perbandingan sejarah. Ia menyebut adanya variabel-variabel baru yang membuat kalkulasi politik menjadi jauh lebih kompleks. Ia menyebut fenomena ini sebagai “patahan sejarah”. Menurut dia, ada anomali yang bekerja di bawah permukaan masyarakat yang tidak bisa dipotret hanya melalui survei elektabilitas biasa.

Pria yang juga menjabat sebagai menteri ini menegaskan, langkah-langkah yang harus disiapkan oleh relawan tidak boleh hanya terpaku pada tahapan-tahapan normatif. Ia ingin Projo lebih fleksibel, responsif, dan siap menghadapi kejutan apapun yang mungkin terjadi di luar ekspektasi publik.

Pernyataan Budi ini memicu pertanyaan besar di kalangan pengamat politik mengenai apa sebenarnya yang dia tangkap dari lapangan.

Apakah ada sinyalemen stabilitas politik yang sedang terganggu, atau sekadar strategi untuk tetap menjaga militansi relawan agar tidak kehilangan momentum pasca-lengsernya Jokowi nanti? Belum ada jawaban pasti.

Yang jelas, Budi Arie baru saja membuat panggung politik nasional yang tadinya tenang, mendadak terasa sedikit lebih sesak dan penuh tanda tanya.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda