BHOPAL — kelas alternatif kini disiapkan untuk guru dan siswa yang terjebak banjir di Bhind, Madhya Pradesh, setelah arus Sungai Baisali membuat akses sekolah terputus. Dinas pendidikan setempat juga mendorong pembangunan jembatan permanen agar para guru tidak lagi harus menyeberang dengan ban dalam ban demi mengisi e-attendance.
Langkah itu muncul sesaat setelah laporan TOI dan video viral dari Nadrauli serta Sumer Singh Ka Pura di panchayat Babedi memantik perhatian publik. Di lokasi itu, hujan deras membuat penyeberangan biasa tak bisa dipakai, sementara proses belajar tetap harus berjalan di sisi sungai tempat sebagian besar guru dan murid terjebak.
Kelas alternatif di sisi sungai yang sama
Otoritas pendidikan menemukan venue pengajaran sementara di sisi sungai yang sama dengan tempat para guru dan siswa tertahan. Kelas dimulai pada hari Senin, hanya beberapa jam setelah laporan itu beredar luas dan memicu sorotan atas keselamatan tenaga pendidik selama musim hujan.
Sebelumnya, para guru terpaksa menyeberangi sungai dengan ban dalam ban yang ditiup, sebuah cara bertahan yang jelas berisiko. Bukan hanya soal jarak. Yang lebih terasa adalah ancaman keselamatan dan terputusnya rutinitas sekolah ketika hujan mengguyur kawasan tersebut.
Dinas pendidikan menenangkan guru soal absensi
District education officer Sudhanshu Dwivedi menegaskan bahwa sekolah tidak boleh terganggu dan staf tidak boleh dipaksa mempertaruhkan keselamatan. Ia mengatakan kepada TOI, “We cannot allow children’s studies to be disrupted or staff to risk their safety,” lalu menambahkan bahwa guru yang tak bisa melakukan e-attendance karena banjir tidak akan dikenai penalti.
Absensi elektronik untuk sementara dipindahkan ke lokasi alternatif itu. Kebijakan sementara ini memberi ruang bernapas bagi guru yang sebelumnya berada dalam posisi serba salah: datang ke sekolah berarti mengambil risiko, tetapi absen juga berarti berhadapan dengan urusan administrasi.
Jembatan permanen jadi kebutuhan utama
Di saat yang sama, DEO telah mengirim surat ke otoritas distrik Bhind untuk meminta persetujuan pembangunan jembatan melintasi Baisali. Usulan itu diteruskan ke directorate of public instructions di Bhopal dan meminta survei, izin, serta penilaian biaya dengan koordinasi bersama public works department.
Kantor collector juga diminta memeriksa kelayakan, biaya, dan jadwal pembangunan jembatan. Artinya, keputusan sementara berupa kelas alternatif hanya menjadi penahan masalah, bukan jawaban akhir.
Warga menyambut langkah darurat itu, tetapi mereka menilai jembatan permanen adalah penyelesaian yang sesungguhnya. Seorang warga Nadrauli mengatakan kepada TOI bahwa setiap musim hujan masalah yang sama selalu datang lagi, membuat anak-anak kehilangan sekolah dan guru mempertaruhkan nyawa.
Dampaknya langsung terasa ke sekolah dan keluarga
Untuk keluarga di Nadrauli dan Sumer Singh Ka Pura, keputusan membuka kelas alternatif berarti pelajaran bisa kembali berjalan tanpa menunggu air surut. Ini penting karena, di banyak daerah rawan banjir, satu hari sekolah yang hilang sering menjalar jadi ketertinggalan panjang, terutama saat akses fisik benar-benar terputus.
Para orang tua di Sumer Singh Ka Pura mengatakan banyak siswa tertinggal pelajaran pada musim hujan sebelumnya karena tak bisa menyeberangi sungai. Mereka berharap jembatan yang diusulkan dapat memutus siklus isolasi yang selama ini mengubah perjalanan rutin ke sekolah menjadi penyeberangan sungai yang berbahaya.
“Every monsoon brings the same problem. Children miss school and teachers risk their lives,” kata seorang warga Nadrauli kepada TOI. Kalimat itu merangkum inti masalah dengan terang: yang dibutuhkan bukan sekadar tempat belajar sementara, tetapi akses yang aman dan permanen.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.