Selasa, 25 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Rial Iran Anjlok ke Rekor Terendah, Tembus IRR 2 Juta per Dolar AS

Rial Iran anjlok ke rekor terendah terhadap dolar AS
Nilai tukar rial Iran terus tertekan di pasar tidak resmi saat tekanan ekonomi dari AS meningkat. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — rial Iran kembali terperosok ke level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS di pasar tidak resmi, di tengah tekanan ekonomi baru dari Amerika Serikat setelah perang yang berlangsung hampir enam bulan. Pada Senin (24/8), kursnya tercatat di IRR 1,992 juta per dolar AS.

Angka itu bukan sekadar simbol pelemahan mata uang. Di pasar yang sensitif terhadap sentimen politik dan pasokan devisa, tekanan semacam ini langsung memukul impor, biaya transaksi, dan ekspektasi inflasi di Iran.

Rial Iran sempat tembus 2 juta

Data dari situs pemantau Bonbast menunjukkan rial Iran diperdagangkan di IRR 1,992 juta per dolar AS pada Senin. Nilai itu melemah 4,5% sejak Presiden AS Donald Trump pekan lalu mengumumkan operasi ekonomi yang disebutnya akan “menghancurkan” Teheran.

Situs pemantau tidak resmi lain, TGJU, bahkan mencatat rial sempat menembus level 2 juta per dolar AS pada Minggu (23/8), sebelum ditutup sedikit lebih rendah. Angka itu menjadi tanda betapa cepat pasar merespons tekanan yang datang hampir bersamaan dari berbagai arah.

Soalnya, dalam situasi seperti ini, pasar valas Iran bergerak bukan hanya karena suplai dolar yang menipis, tetapi juga karena pelaku pasar buru-buru mencari lindung nilai. Rupiah? Bukan. Yang diburu adalah dolar, dan semua harga ikut bergetar.

Tekanan AS menekan jalur devisa

Pelemahan rial Iran terjadi seiring langkah AS yang berupaya mengisolasi Iran secara ekonomi. Washington mengancam sejumlah mitra dagang Iran yang masih tersisa, memblokade pelabuhan-pelabuhan utama Iran di Teluk Persia, serta menekan ekspor minyak yang selama ini menjadi sumber utama devisa negara itu.

Pekan lalu, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati mengatakan ekspor minyak mentah negaranya kini “praktis telah berhenti”. Pernyataan itu memberi gambaran betapa beratnya tekanan yang dihadapi Teheran ketika sumber pendapatan utama makin menyempit.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menegaskan sikap Washington. “Tujuan kami adalah memutus setiap jalur kehidupan ekonomi yang menopang rezim tirani tersebut hingga Teheran benar-benar berdiri sendiri,” tulis Bessent. Ia menambahkan bahwa “D-Day ekonomi” akan dimulai pada Senin pagi.

Dampak langsung ke perdagangan Iran

Bagi Iran, pelemahan rial Iran bukan cuma soal nilai tukar di layar pemantau. Surat kabar ekonomi Donya-e Eqtesad menyebut anjloknya rial dipicu gangguan dalam transfer valuta asing dan penurunan ekspor, bersamaan dengan meningkatnya permintaan impor serta naiknya ekspektasi inflasi.

Artinya, biaya barang dari luar negeri berpotensi makin mahal, arus pembayaran lintas negara makin rumit, dan ruang pemerintah untuk menstabilkan pasar kian sempit. Tekanan seperti ini biasanya cepat terasa di rantai perdagangan, dari importir besar sampai pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan baku luar negeri.

Di sisi lain, Iran mencoba mencari penyangga lewat mitra yang masih bersedia bekerja sama. Pekan lalu, Uni Emirat Arab, salah satu mitra dagang utama Teheran, menyatakan telah menangguhkan seluruh transaksi keuangan dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut.

China, yang menjadi pembeli utama minyak Iran, menyatakan tekanan ekonomi AS tidak akan berhasil dan menyerukan penyelesaian perang melalui jalur diplomasi. Teheran juga mengincar dukungan yang lebih kuat dari Shanghai Cooperation Organisation dan BRICS untuk menahan guncangan dari Washington.

Iran melirik BRICS dan SCO

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran akan semakin mengandalkan kelompok dan kerja sama internasional seperti Shanghai Cooperation Organisation serta BRICS untuk menghadapi tekanan AS.

“Kami meyakini struktur seperti Shanghai Cooperation Organisation dan kelompok BRICS merupakan instrumen yang efektif untuk mematahkan monopoli kekuasaan dan bergerak menuju tatanan internasional yang lebih adil. Iran bertekad untuk memanfaatkan peluang-peluang tersebut semaksimal mungkin,” tulis Araghchi dalam artikelnya di surat kabar pemerintah Ettela’at.

Namun, di pasar, semua rencana diplomasi itu belum cukup menahan laju penurunan. Selama pasokan dolar tetap seret dan ekspor minyak belum pulih, kurs rial Iran masih akan mudah terseret oleh kabar baru dari Washington, Abu Dhabi, dan Beijing.

Dan pada Senin itu, angka di papan kurs sudah berbicara duluan.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda