Senin, 3 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Ketegangan Iran-AS: Negosiasi Selat Hormuz Masuki Tahap Final

Ketegangan Iran-AS
Ketegangan Iran-AS: Negosiasi Selat Hormuz Masuki Tahap Final. (Ilustrasi: AI)

TEHERAN — Upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat akhirnya menunjukkan secercah harapan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa pembicaraan mengenai pengelolaan pelayaran di Selat Hormuz bersama Oman kini telah berada dalam tahap final.

Pernyataan ini muncul tak lama setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan untuk menunda rencana serangan baru terhadap Iran. Langkah tersebut diambil guna memberi ruang bagi diplomasi setelah kedua belah pihak menyepakati parameter awal sebuah kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima bulan.

Diplomasi di Balik Ketegangan

Selama lebih dari satu bulan, kebuntuan mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi hambatan utama dalam upaya perdamaian regional.

Berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani pada 17 Juni, kedua negara sebelumnya telah sepakat memperpanjang gencatan senjata bulan April selama 60 hari. Langkah ini bertujuan memberikan waktu tambahan bagi para negosiator untuk mencapai solusi permanen.

Seorang pejabat regional yang terlibat dalam upaya mediasi mengungkapkan bahwa proposal yang diusung melibatkan pembukaan penuh Selat Hormuz dan penghentian serangan lintas wilayah, termasuk serangan oleh milisi yang didukung Iran di Irak terhadap negara-negara Teluk Arab dan Yordania.

Sebagai imbalan, Amerika Serikat direncanakan akan mengakhiri blokade angkatan laut dan mengizinkan Iran untuk kembali mengekspor minyak mereka.

Reaksi dan Kekhawatiran Regional

Meski terdapat sinyal positif dari meja perundingan, situasi di lapangan tetap rapuh. Iran sempat menuding Amerika Serikat melakukan perang psikologis dan menyatakan bahwa militer mereka tetap dalam posisi siaga penuh.

Sementara itu, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, telah melakukan komunikasi telepon dengan Trump untuk menyampaikan kekhawatiran terkait potensi eskalasi konflik yang dapat menyasar infrastruktur energi di kawasan Teluk.

Di sisi lain, bagi warga Palestina di Gaza, pengumuman gencatan senjata membawa secercah harapan di tengah krisis kemanusiaan yang mendalam. Sebagian besar dari 2 juta penduduk Gaza masih hidup dalam kondisi memprihatinkan di kamp-kamp pengungsian dengan ancaman wabah penyakit, meski secara realita serangan militer masih terjadi di beberapa titik.

Ketidakpastian juga menyelimuti situs nuklir Iran yang dikenal sebagai Kuh-e Kolang Gaz La, atau Gunung Belum Kapak.

Situs yang terkubur jauh di bawah pegunungan tersebut menjadi perhatian internasional, terutama setelah Amerika Serikat sebelumnya melakukan operasi militer di fasilitas pengayaan Natanz.

Hingga saat ini, badan pengawas nuklir PBB belum pernah mendapatkan akses untuk memeriksa langsung apa yang tersimpan di balik lokasi tersebut.

Seiring berjalannya proses negosiasi, publik Amerika Serikat sendiri mulai menunjukkan skeptisisme terhadap kelanjutan perang ini. Data survei AP-NORC menunjukkan sekitar dua pertiga warga Amerika menilai konflik tersebut tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan, memberikan tekanan tambahan bagi pemerintahan untuk segera meresmikan kesepakatan yang tentatif tersebut.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda