Selasa, 25 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Setelah Pagelaran Sabang Merauke 2026: Hikayat Srikandi Nusantara

Pagelaran Sabang Merauke 2026 menampilkan kisah Srikandi Nusantara
Pagelaran Sabang Merauke 2026 mengangkat kisah Srikandi Nusantara lewat adegan perempuan-perempuan tangguh dari berbagai legenda. (Ilustrasi: AI)

Sriwijaya bukan cuma latar, tapi juga simbol diplomasi, pengetahuan, dan peran perempuan yang kuat dalam sejarah.

Masih di segmen itu, “Gending Sriwijaya” tidak berhenti pada tari sambut. Unsur barosangi, liong, dan pendekar wushu ikut dihadirkan. Kombinasi ini memberi rasa meriah yang padat, sekaligus menegaskan bahwa pertunjukan ini memang ingin merangkum banyak lapisan budaya dalam satu malam.

Lalu cerita bergeser ke Sumatera Barat. Srikandi bertemu Mande Rubayah, ibu Malin Kundang. Dalam versi panggung, Malin Kundang kembali menjadi manusia dan meminta maaf kepada ibunya. Mande Rubayah, yang di kisah asal hidup dalam luka sebagai ibu tunggal yang ditinggalkan anaknya, lalu diajak Srikandi bergabung dalam pasukan. Adegan ini mengubah tragedi jadi ruang penyembuhan. Singkat. Tapi kuat.

Setelah itu, giliran Dayang Sumbi yang diperankan Christine Tambunan muncul. Di kisah asli, Dayang Sumbi menyimpan rangkaian duka: terpisah dari latar kerajaan, hidup dengan Tumang, kehilangan suami, jauh dari anak, sampai nyaris terjerat pernikahan sedarah.

Namun panggung kali ini memilih sisi yang lebih tenang. Dayang Sumbi tetap teguh. Ia menerima ajakan Srikandi untuk ikut bergerak melawan Yuyu Kangkang.

Calonarang, Barong, dan pesan tentang hidup yang tak hitam-putih

Babak Bali membawa Srikandi bertemu Calonarang. Sosok ini menjadi salah satu titik paling menarik dalam penceritaan Pagelaran Sabang Merauke 2026. Dalam bahan sumber, Calonarang dibaca bukan semata sebagai tokoh jahat, melainkan perempuan yang marah karena diskriminasi terhadap anaknya.

Ia janda sakti dari Desa Girah, ibu dari Ratna Manggali, dan kemarahan itu meledak setelah anaknya dijauhi masyarakat.

Di panggung, tafsirnya digeser ke arah keseimbangan antara sekala dan niskala. Barong, celuluk, dan rangda tidak dihadirkan sebagai kubu baik dan buruk yang saling bertabrakan. Mereka justru menjadi pengingat bahwa hidup punya dua sisi yang jalan berdampingan. Tafsir seperti ini membuat pertunjukan tidak jatuh pada hitam-putih yang sederhana. Ada empati. Ada lapisan.

Di bagian inilah pertunjukan terasa punya dampak paling nyata. Bukan cuma karena kostum, koreografi, atau skala produksi, melainkan karena cara ia membuka ruang baru untuk membaca ulang tokoh perempuan yang selama ini sering dipinggirkan oleh narasi populer.

Halaman:123Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 25 Agustus 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir