Penonton tidak hanya diajak menikmati visual. Mereka juga diajak melihat bagaimana amarah, kehilangan, kasih sayang, dan perlawanan bisa hidup bersamaan dalam satu tubuh cerita.
Di balik panggung, kerja kreatifnya juga tidak main-main
Lapisan lain datang dari sisi busana. Liputan6 mencatat, Priyo Oktaviano bersama tim desainer Ikatan Perancang Mode Indonesia menyusun motif tenun Nusantara yang otentik untuk pertunjukan ini.
Rama Dauhan juga mengerjakan kostum serdadu keraton dengan riset ke Imogiri dan bahkan meminta izin langsung ke Sultan. Chossy Latu, menurut laporan yang sama, menghadapi tantangan besar saat Christie Tambunan harus berganti busana dalam waktu 2 menit 10 detik.
Detail-detail itu penting. Soalnya, pertunjukan seperti Pagelaran Sabang Merauke 2026 berdiri bukan cuma di atas ide cerita, tapi juga disiplin produksi yang rumit. Kostum harus tepat. Perpindahan adegan harus mulus. Riset budaya harus cermat. Tanpa itu, kisah sebesar apa pun bisa terasa kosong di panggung.
Di titik akhir, pertunjukan ini tidak menutup diri pada nostalgia. Ia justru menatap ke depan dengan membawa tokoh-tokoh perempuan Nusantara sebagai lambang keberanian, penolakan terhadap kekerasan, dan ruang bagi luka untuk disembuhkan. Panggungnya selesai, tapi gema Srikandi masih panjang.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.