Bagi pekerja perempuan, dampaknya terasa langsung. Saat ruang laktasi tersedia dan berfungsi baik, proses menyusui lebih mudah dijaga di tengah ritme kerja. Bagi perusahaan, dukungan seperti ini ikut membentuk lingkungan kerja yang lebih ramah keluarga. Dan bagi pemerintah daerah, keberadaan fasilitas itu menjadi salah satu jalan untuk memperkuat target kesehatan ibu dan anak di level kota.
Sinergi lintas sektor jadi kuncinya
Di Kota Tangerang, pemenuhan ASI eksklusif tidak dibebankan ke keluarga semata. Dinas Kesehatan mendorong pemerintah, instansi, dan dunia usaha bergerak bersama agar ibu mendapat dukungan nyata saat berada di ruang kerja.
Langkah ini juga menunjukkan bahwa isu laktasi bukan urusan pribadi belaka. Ada peran kantor, ada peran pengelola tempat kerja, dan ada peran kebijakan publik yang saling terkait. Kalau satu mata rantai lemah, hasil akhirnya ikut tersendat.
Karena itu, pesan dari seminar tersebut mengarah pada satu hal sederhana namun penting: fasilitas harus bekerja. Ruang laktasi perlu tersedia, mudah diakses, dan benar-benar dipakai untuk mendukung ibu menyusui, bukan hanya menempel di daftar fasilitas kantor.
Dengan capaian ASI eksklusif yang sudah 62 persen, Kota Tangerang kini punya pijakan untuk melangkah lebih jauh. Tekanannya ada pada konsistensi, terutama di lingkungan kerja yang setiap hari bersentuhan langsung dengan ibu pekerja dan bayi mereka.
Ke depan, tantangannya ada pada sejauh mana sektor swasta di Kota Tangerang mau menjadikan ruang laktasi sebagai bagian dari budaya kerja, bukan sekadar pelengkap fasilitas.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.