Kamis, 27 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Makna kutipan “Kun Fayakun” menurut produser “Baby Udon” Denny Sumargo

Kun Fayakun di film Baby Udon menurut Denny Sumargo
Denny Sumargo menjelaskan makna kutipan Kun Fayakun dalam gala perdana film Baby Udon di Jakarta. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Kun Fayakun menjadi kunci yang dipilih Denny Sumargo untuk menjelaskan jiwa film terbarunya, Baby Udon. Dalam gala perdana di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu, aktor sekaligus produser itu menyebut kutipan yang terinspirasi dari Al-Qur’an, Surat Yasin ayat 82, hadir sebagai penuntun perjalanan spiritual tokoh Hajime Kondoh.

Denny tidak menaruh kutipan itu sebagai tempelan. Ia mengaitkannya langsung dengan perjalanan Hajime yang memeluk Islam dan kemudian membangun keluarga bersama Fanny, perempuan dari latar budaya dan negara yang berbeda. Ada satu titik yang ia tekankan. Bukan semata cinta.

Kun Fayakun dan perjalanan Hajime di Baby Udon

Menurut Denny, kisah Hajime bergerak dari pergulatan batin menuju kepasrahan penuh pada takdir. Dalam konferensi pers itu, ia menyampaikan, “Saat Hajime memutuskan memeluk Islam, perjalanan itu bukan semata-mata demi mengejar cintanya kepada Fanny.

Lebih dari itu, ia sedang menjemput keimanannya sendiri,” kata Denny dalam konferensi pers gala perdana film “Baby Udon” di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu.

Kalimat itu menjadi semacam poros cerita film. Denny melihat kekuatan doa dan kehendak Tuhan sebagai inti dari komitmen Hajime terhadap sang istri. Di situ, Kun Fayakun tidak sekadar terdengar religius, tapi juga membentuk cara penonton membaca konflik dan keputusan tokoh utamanya.

Film ini sendiri berangkat dari kisah nyata yang menyentuh. Versi pembanding dari JPNN menyebut proses penggarapan Baby Udon berlangsung hampir satu tahun dan sempat berada di titik nyaris gagal. Di sisi lain, ANTARA dan Antaranews sama-sama menegaskan bahwa film ini membawa perjalanan emosional Hajime Kondoh bersama Fanny Kondoh ke layar lebar.

Misi moral yang dibawa film

Denny menilai elemen spiritual dalam film ini sengaja dihadirkan agar cerita tidak berhenti pada romansa. Ia ingin Baby Udon membawa misi moral yang positif bagi penonton. Pesannya sederhana, tapi berat. Ketika usaha manusia mentok, ada ruang untuk menyerahkan hasil kepada Tuhan.

Ia juga berharap film ini bisa menjadi sumber motivasi, terutama bagi orang-orang yang sedang berada di titik lelah dalam berjuang. Dalam pandangannya, saat pikiran dan tenaga sudah habis, Kun Fayakun bisa hadir sebagai energi positif yang besar. Soalnya, ada fase ketika manusia memang tidak lagi memegang semua kendali.

Laporan lain dari Gorontalo Antaranews menambah konteks bahwa film ini juga memberi ruang pada tafsir religius yang diucapkan para pemain. Dalam salah satu percakapan di lokasi yang sama, aktor Alfie Alfandy menanggapi istilah itu dengan menekankan bahwa manusia tidak patut mendahului takdir Tuhan. Nuansanya senada: film ini memang berjalan di jalur iman, harapan, dan penerimaan.

Bagi penonton, arah cerita seperti ini penting karena memberi lapisan yang lebih luas ketimbang kisah cinta biasa. Baby Udon tidak hanya menampilkan hubungan suami-istri, tetapi juga pertarungan batin tentang keyakinan, kesabaran, dan batas usaha. Itulah yang membuat kutipan Kun Fayakun terasa punya fungsi naratif, bukan hanya simbolik.

Kenapa kutipan itu terasa relevan

Di tengah banyak film yang bertumpu pada konflik cepat dan dialog ringan, Denny memilih pesan yang lebih tenang. Ia menaruh pusat cerita pada perubahan batin tokoh. Dari sana, penonton diajak melihat bahwa keputusan Hajime bukan lahir dari dorongan sesaat, melainkan dari proses menerima dan menjemput iman.

Pada laporan Kalteng Antaranews, Denny juga disebut menyinggung pengaruh besar istrinya dalam membentuk sikapnya di proyek ini. Pembanding itu memperlihatkan bahwa tema keluarga dan penghormatan kepada pasangan memang menempel kuat pada cara Denny membaca Baby Udon. Jadi, kutipan Kun Fayakun bukan berdiri sendiri. Ia masuk ke jantung cerita tentang hubungan, kesetiaan, dan perubahan diri.

Untuk industri film Indonesia, pendekatan seperti ini memberi sinyal bahwa film berbasis kisah nyata masih punya ruang besar selama dikerjakan dengan sudut pandang yang jernih. Penonton tidak cuma mencari drama. Mereka juga mencari alasan untuk percaya pada cerita yang disodorkan. Dan di film ini, alasan itu datang lewat unsur spiritual yang diikat ke perjalanan Hajime Kondoh dan Fanny Kondoh.

Di hadapan media, Denny menempatkan Kun Fayakun sebagai bahasa yang menjelaskan batas usaha manusia. Ketika segala tenaga sudah dikeluarkan, film ini ingin berhenti sejenak pada satu pertanyaan yang sederhana tapi menohok: apakah seseorang masih mau berserah pada kehendak Tuhan? Jawaban itulah yang tampaknya akan terus dibawa Baby Udon saat tayang dan dibicarakan setelah gala perdana selesai.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 27 Agustus 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir