Kamis, 27 Agustus 2026 WIB
BREAKING
HUKUM KRIMINAL

Sidang Lindsay Clancy: Saksi Ahli FBI Ragukan Adanya Suara Gaib

Sidang Lindsay Clancy
Persidangan kasus Lindsay Clancy di Plymouth, Massachusetts, memasuki tahap akhir dengan argumen dari saksi ahli

Duduk tegak di ruang sidang Plymouth, Massachusetts, Dr. Gregory Saathoff mematahkan narasi yang selama ini dibangun pihak pembela Lindsay Clancy.

Saksi ahli dari FBI tersebut secara terbuka meragukan klaim bahwa Clancy mendengar “suara gaib” sesaat sebelum menghabisi nyawa ketiga anak kandungnya pada 2023.

Kesaksian ini menjadi pukulan telak bagi kubu terdakwa yang sejak awal bersikeras bahwa psikosis pascapersalinan merenggut kesadaran ibu tersebut.

Kasus tragis yang menimpa Cora yang berusia 5 tahun, Dawson berusia 3 tahun, dan bayi Callan yang baru menginjak 8 bulan ini sudah menyita perhatian publik selama lima pekan terakhir.

Jaksa penuntut umum menutup sesi pembuktian mereka dengan menghadirkan Saathoff, psikiater senior dari Unit Analisis Perilaku FBI. Fokus utamanya sederhana tapi mematikan: apakah Clancy benar-benar kehilangan kendali, atau justru bertindak dengan penuh kesadaran?

Logika di Balik Tindakan

Saathoff tidak sekadar berpendapat. Ia membedah alur pergerakan Clancy saat malam kejadian. Menurutnya, ada ketidaksesuaian mendasar antara deskripsi “suara gaib” dengan fakta di lapangan. Clancy menggunakan pita latihan untuk menghabisi anak-anaknya di ruang bawah tanah.

Bagi Saathoff, eksekusi yang membutuhkan koordinasi fisik dan pemilihan alat semacam itu bukanlah ciri orang yang tengah mengalami halusinasi parah atau instruksi suara luar yang acak.

Ia menyoroti absennya detail spesifik dari suara-suara yang diklaim terdakwa. Jika memang ada perintah untuk membunuh, seharusnya ada instruksi rinci mengenai metode, urutan, atau lokasi. Namun, dalam analisis forensik Saathoff, hal itu tidak ditemukan.

“Tindakan yang terencana,” tegasnya di depan majelis hakim. Argumen ini memperkuat garis besar dakwaan Jaksa Jennifer Sprague yang sejak awal meyakini bahwa Clancy memahami sepenuhnya konsekuensi moral dan hukum dari setiap langkah yang ia ambil saat itu.

Jaksa Sprague memang sangat agresif. Sepanjang persidangan, ia telah memanggil lebih dari 70 saksi, termasuk mantan suami Clancy. Tujuannya satu: membuktikan bahwa Clancy bukanlah korban dari kondisi medis yang tak terelakkan, melainkan pelaku yang memiliki niat sadar.

Setiap detail kecil, dari aktivitas ponsel hingga catatan kesehatan Clancy sebelum kejadian, dikuliti habis oleh tim jaksa untuk menggiring opini juri.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda