JAKARTA — Bantuan gempa NTT dari ekosistem Holding Danareksa mulai bergerak dalam bentuk barang kebutuhan pokok. PT Danareksa (Persero) bersama tujuh anggota holding kawasan industri, tenant, karyawan, dan mitra menghimpun bantuan senilai Rp423 juta untuk masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur.
Nilai bantuan itu kemudian diwujudkan menjadi 9,5 ton beras, lebih dari 1.100 porsi makanan siap saji, 300 liter minyak goreng, serta lebih dari 500 unit susu siap minum dan susu formula. Penyalurannya dilakukan lewat dua tahap, pada 21 Agustus 2026 dan 25 Agustus 2026, melalui posko dan BPBD setempat.
Respons cepat dari jaringan kawasan industri
Penghimpunan sekaligus penyaluran bantuan dikoordinasikan oleh PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER), anggota holding yang jaraknya paling dekat ke lokasi bencana. Langkah itu membuat dana yang terkumpul bisa segera dialihkan menjadi kebutuhan paling mendesak sesuai permintaan posko.
Di lapangan, bantuan yang disiapkan tidak berhenti pada bahan makanan. Lebih dari 200 unit perlengkapan istirahat seperti kasur lipat, bantal, sarung, dan terpal ikut dikirim. Ada pula lebih dari 440 unit kebutuhan kebersihan keluarga, dari popok bayi, popok lansia, sampai sikat dan pasta gigi.
Direktur Utama PT Danareksa (Persero) Ngurah Wirawan menegaskan perusahaan melihat jaringan bisnis sebagai alat untuk memberi manfaat nyata.
Ia mengatakan, “Sebagai holding kawasan industri yang berorientasi pada penciptaan nilai, kami berkomitmen mengoptimalkan jaringan, skala, dan kapasitas bisnis sebagai kekuatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kami berterima kasih karena ekosistem kawasan industri, tenant, karyawan, dan mitra bergerak kolektif untuk mendukung percepatan pemulihan masyarakat terdampak gempa di NTT”.
Gempa NTT dan kebutuhan paling mendesak di pengungsian
Aksi kemanusiaan ini digagas setelah gempa tektonik Magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 berdampak pada sejumlah wilayah di NTT. Bencana itu menimbulkan kerusakan rumah warga, fasilitas umum, hingga longsor di beberapa titik.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, per 27 Agustus 2026, sebanyak 176 ribu orang masih bertahan di sejumlah posko pengungsian. Angka itu menunjukkan kenapa bantuan yang cepat, berupa logistik harian dan perlengkapan dasar, punya arti besar bagi warga yang masih berupaya pulih dari guncangan.
Soalnya, di fase awal bencana, kebutuhan warga tidak berhenti pada makanan. Air bersih, tempat tidur darurat, perlengkapan bayi, dan kebersihan keluarga ikut menentukan apakah pengungsian bisa berjalan layak atau tidak.
Siapa saja yang ikut menyumbang
Kontribusi datang dari PT Kawasan Industri Medan, PT Kawasan Berikat Nusantara, PT Kawasan Industri Wijayakusuma, PT Kawasan Industri Makassar, PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (Perseroda), PT Kawasan Industri Terpadu Batang, dan SIER. Karyawan dan tenant di dalam ekosistem itu juga ikut menguatkan dana bantuan yang terkumpul.
Seluruh rangkaian penyaluran berjalan melalui dua kanal. Tahap pertama dilakukan pada 21 Agustus 2026 melalui Posko Induk BRI Peduli Tanggap Bencana Gempa NTT bersama InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) dan BPBD setempat. Tahap berikutnya berlangsung pada 25 Agustus 2026 melalui BPBD Provinsi Jawa Timur.
Bagi ekosistem industri, cara kerja seperti ini penting karena mempercepat perubahan dari dana jadi barang, dari komitmen jadi logistik nyata. Untuk warga, dampaknya langsung terasa di dapur pengungsian, tempat tidur darurat, dan kebutuhan harian yang tidak bisa menunggu lama.
Danareksa memosisikan respons itu bukan sebagai aksi terpisah, melainkan pola kolaborasi yang makin terkoordinasi di seluruh jaringan kawasan industri. Di situ, jarak dekat SIER ke lokasi bencana jadi kunci, sementara jaringan holding membuat pengumpulan bantuan bergerak lebih cepat ke lapangan.
Di tengah situasi pengungsian yang masih menampung 176 ribu orang, aliran beras, makanan siap saji, dan perlengkapan dasar seperti ini jadi penyangga awal sebelum pemulihan yang lebih panjang dimulai. “Kami berterima kasih karena ekosistem kawasan industri, tenant, karyawan, dan mitra bergerak kolektif,” kata Ngurah Wirawan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.