Minggu, 30 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Laporan Akhir SQ321 Rilis: Penyebab Turbulensi & Gugatan Korban Singapore Airlines

singapore airlines flight 32
Laporan Akhir SQ321 Rilis: Penyebab Turbulensi & Gugatan Korban Singapore Airlines. Credit: Dok. JournalArta

SINGAPURA, JOURNALARTA.COM – Transport Safety Investigation Bureau (TSIB) Singapura akhirnya merilis laporan akhir setebal 59 halaman mengenai insiden Singapore Airlines Flight SQ321 pada 18 Mei 2026. Laporan ini mengungkap penyebab turbulensi hebat yang terjadi hampir dua tahun lalu, tepatnya pada 21 Mei 2024, sekaligus memberikan rekomendasi keamanan. Di sisi lain, keluarga korban juga mulai melayangkan gugatan hukum baru ke Inggris pada Agustus 2026.

Insiden penerbangan rute London-Singapura ini menewaskan satu penumpang dan melukai puluhan lainnya, mendorong otoritas penerbangan untuk menyelidiki secara mendalam. Hasil penyelidikan ini diharapkan dapat meningkatkan standar keselamatan penerbangan di masa mendatang, terutama terkait deteksi dan penanganan turbulensi ekstrem.

Kronologi Singkat Insiden SQ321

Penerbangan SQ321 menggunakan pesawat Boeing 777-300ER dan sedang dalam perjalanan dari London menuju Singapura. Pesawat ini mengalami turbulensi parah saat melintasi ketinggian 37.000 kaki di atas Cekungan Irrawaddy, Myanmar. Kejadian berlangsung sangat cepat, dengan perubahan gaya-G ekstrem dalam 4,6 detik, dari +1,35G menjadi -1,5G, lalu melonjak ke +1,5G.

Dampak dari turbulensi ini sangat fatal. Seorang penumpang berusia 73 tahun meninggal dunia, diduga karena serangan jantung. Selain itu, 83 orang lainnya cedera, dengan 20 di antaranya harus dirawat intensif di ICU. Pesawat akhirnya melakukan pendaratan darurat di Bangkok, Thailand, untuk memberikan pertolongan medis kepada para korban.

Penyebab Utama Turbulensi & Masalah Radar

Laporan akhir TSIB menguraikan poin-poin penting dari hasil penyelidikan. Penyebab utama insiden ini adalah pertemuan pesawat dengan awan konvektif yang disertai badai dan updraft kuat. TSIB mencatat bahwa updraft mencapai 8.000 hingga 9.000 kaki per menit, menegaskan bahwa ini bukan turbulensi udara jernih (clear-air turbulence) biasa, melainkan terkait dengan aktivitas badai.

Salah satu temuan krusial TSIB adalah kemungkinan masalah pada radar cuaca pesawat. Laporan tersebut menyebutkan bahwa radar cuaca mungkin ‘under-detected‘ atau gagal mendeteksi awan badai secara akurat. Meskipun pengujian di pabrikan tidak menemukan kerusakan pasti pada unit radar, TSIB tidak mengesampingkan kemungkinan adanya kegagalan fungsi. Fluktuasi gaya-G pertama tercatat 19 detik sebelum hantaman terparah terjadi pada pukul 07:49 UTC.

TSIB menilai tindakan kru pesawat dan keputusan untuk mengalihkan penerbangan ke Bangkok sudah ‘appropriate’ atau sesuai dengan prosedur darurat. Namun, laporan tersebut juga mencatat bahwa kapten seharusnya memerintahkan semua kru dan penumpang untuk menggunakan sabuk pengaman lebih awal, mengingat adanya aktivitas konvektif yang terdeteksi di jalur penerbangan.

Rekomendasi Keamanan dari TSIB

Halaman:12Semua Halaman

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda