Bagi pembaca, efeknya juga langsung terasa. Cara orang menilai pakaian di media sosial berubah lebih cepat dari rak toko. Sebuah kain yang sama bisa dibaca sebagai praktis oleh satu kelompok, lalu dianggap “polyester” oleh kelompok lain. Bukan sekadar soal tekstur. Soal reputasi.
Di titik ini, polyester menjadi contoh bagaimana bahasa internet membentuk selera. Istilah yang terdengar ringan bisa membawa pesan yang lebih besar: penolakan terhadap sesuatu yang dinilai serba instan. Dan sekali kata itu populer, ia cepat menempel ke percakapan sehari-hari.
Kata “basic bitch” pernah punya momen sendiri ketika Kate Moss menyebut pilot easyJet dengan istilah itu pada 2015, lalu ungkapan tersebut masuk arus utama. Kini, menurut bahan sumber, polyester berada di jalur yang sama sebagai sindiran baru Gen Z. Bedanya, kali ini yang diserang bukan cuma orang, tapi juga bahan yang melekat pada gaya hidup fast fashion.
Karena itu, pergeseran makna polyester layak dibaca sebagai tanda zaman. Bahan yang paling banyak diproduksi itu tidak lagi hadir diam-diam di balik baju murah. Ia ikut dibawa ke panggung percakapan publik, lalu dipakai untuk mengomentari selera, citra, dan cara orang tampil di TikTok.
Dan di situlah letak daya ledaknya: satu kata lama, makna baru, efeknya luas. Polyesternya tetap sama. Cara orang memandangnya yang berubah.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.