Minggu, 30 Agustus 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Polyester Jadi Insult Gen Z, Tanda Backlash Fast Fashion

Polyester Jadi Insult Gen Z, Tanda Backlash Fast Fashion
Polyester Jadi Insult Gen Z, Tanda Backlash Fast Fashion

JAKARTA — polyester kini punya makna baru di kalangan Gen Z. Bahan sintetis yang dulu dipakai luas di pakaian sehari-hari itu mulai dijadikan sindiran untuk tampilan yang dianggap murahan, terutama di TikTok.

Perubahan makna ini muncul di tengah penolakan yang lebih luas terhadap fast fashion. The Guardian melaporkan, penggunaan polyester sebagai kata ejekan mencerminkan reaksi literal terhadap bahan yang kini menjadi serat sintetis paling banyak diproduksi di planet ini.

Polyester, dari bahan pakaian jadi bahan ejekan

Fenomena ini terasa menarik karena pergeseran bahasanya datang dari tempat yang sangat modern: media sosial. Di ruang digital, kata polyester dipakai bukan lagi untuk menyebut kain, melainkan untuk meremehkan video yang terlihat murah, norak, atau tidak punya selera.

Psychology Today, seperti dikutip dari bahan sumber, menyebut polyester bahkan telah viral sebagai salah satu ejekan favorit Gen Z. Sindiran itu dilontarkan ke video TikTok yang dianggap berpenampilan murahan, lalu kadang melebar ke pengguna lain dan selera mereka.

Perjalanan sebuah istilah memang sering tak bisa ditebak. Kata yang awalnya netral bisa berubah jadi label sosial. Dalam kasus ini, polyester bukan cuma soal serat. Ia sudah berubah jadi penanda rasa muak terhadap estetika yang dianggap terlalu dekat dengan produksi massal dan tampilan serba cepat.

Satu kata. Tajam.

Kalau dulu bahan sintetis identik dengan kepraktisan, sekarang ia ikut terseret dalam debat soal rasa, kelas, dan citra. Itulah yang membuat kata ini cepat menyebar. Ia pendek, gampang diulang, dan terasa cukup menusuk untuk dipakai sebagai sindiran.

Kenapa backlash terhadap polyester penting dibaca

Gelombang penolakan terhadap polyester menunjukkan bahwa perbincangan soal mode sudah bergerak melampaui soal bagus atau jelek. Yang ikut dipersoalkan adalah apa yang diwakili bahan itu: produksi cepat, tampilan murah, dan budaya beli-kenakan-buang yang lekat dengan fast fashion.

Bagi industri mode, pergeseran bahasa seperti ini bukan perkara kecil. Saat sebuah bahan mulai dipakai sebagai hinaan, citranya ikut berubah. Merek yang selama ini bergantung pada bahan sintetis murah berhadapan dengan generasi yang makin peka pada kesan visual, kualitas, dan makna sosial di balik pakaian.

Halaman:12Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 30 Agustus 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir