Senin, 31 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Tentara Kolumbia Tembak Mati Pemimpin Faksi Disiden FARC

Tentara Kolumbia Tembak Mati Pemimpin Faksi Disiden FARC
Tentara Kolumbia Tembak Mati Pemimpin Faksi Disiden FARC

Pasukan militer Kolombia akhirnya memutus rantai komando salah satu faksi paling berbahaya dari kelompok disiden FARC. Pemimpin senior yang dikenal dengan nama sandi “Felipe” atau “Arcadio” tewas dalam sebuah operasi penyergapan di wilayah barat daya negara tersebut.

Kabar ini disampaikan langsung oleh Presiden Abelardo de la Espriella pada Minggu, yang menegaskan bahwa kematian target ini adalah pukulan telak bagi organisasi pemberontak yang masih menolak berdamai.

Operasi militer tersebut menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam melumpuhkan sisa-sisa kekuatan FARC. Presiden Espriella bahkan mengunggah potongan video ke media sosial pribadinya, menampilkan jenazah yang diidentifikasi sebagai Felipe. Dalam rekaman tersebut, wajahnya tampak jelas sebagai tanda bahwa pemerintah tidak lagi sekadar berwacana soal penumpasan kelompok bersenjata di area terpencil.

Jejak Kekuasaan dalam Kelompok Mordisco

Felipe bukan tokoh sembarangan. Ia menempati posisi kunci dalam hierarki faksi disiden yang dikomandoi oleh Ivan Mordisco. Selama ini, kelompok Mordisco menjadi duri dalam daging bagi stabilitas keamanan di Kolombia.

Mereka menguasai jalur-jalur perdagangan narkotika sekaligus menjalankan praktik pemerasan sistematis terhadap penduduk lokal. Keberadaan mereka nyata-nyata mencekik pemulihan ekonomi di wilayah barat daya yang memang sudah lama tertinggal.

Kelompok ini muncul sebagai pecahan FARC yang menolak mentah-mentah perjanjian perdamaian historis beberapa tahun silam. Mereka memilih tetap memanggul senjata, berlindung di balik hutan belantara dan medan yang sulit ditembus pasukan reguler. Bagi warga sipil yang terjepit di zona konflik, eksistensi kelompok ini adalah ancaman harian yang membatasi ruang gerak serta akses terhadap kesejahteraan.

Tindakan tegas militer ini pun memicu reaksi beragam. Bagi pemerintah, menyingkirkan sosok selevel Felipe adalah strategi untuk meruntuhkan struktur organisasi dari dalam. Harapannya, kepemimpinan yang terpukul akan melemahkan koordinasi di lapangan.

Terlebih, pemerintah sedang berupaya keras membedakan mana kelompok yang masih bisa diajak berdialog dan mana yang harus dihadapi dengan laras senjata.

Dilema Keamanan di Perbatasan

Sejauh ini, pihak kelompok Mordisco masih membisu. Tidak ada pernyataan resmi yang dikeluarkan terkait kematian Felipe. Namun, sejarah menunjukkan bahwa kelompok ini memiliki daya tahan yang tak bisa disepelekan. Seringkali, saat satu pemimpin tumbang, mereka dengan cepat melakukan restrukturisasi.

Kaderisasi di dalam organisasi bawah tanah ini berjalan sangat ketat, sehingga hilangnya satu orang biasanya tidak langsung membubarkan kekuatan teritorial yang mereka pegang.

Pemerintah Kolombia sendiri berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, ada jalur negosiasi yang terbuka untuk sebagian fraksi pemberontak yang mau melunak. Tapi, kelompok Mordisco tetap memosisikan diri sebagai musuh bebuyutan yang menutup pintu dialog. Operasi militer langsung, seperti yang menewaskan Felipe, menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami.

Situasi di lapangan masih sangat tegang. Para komandan militer kini bersiap menghadapi kemungkinan serangan balasan atau pergeseran taktik dari sisa anggota faksi pimpinan Mordisco. Keamanan di wilayah barat daya dipastikan bakal diperketat dalam beberapa hari ke depan, mengingat hilangnya seorang pemimpin senior biasanya memicu instabilitas internal di dalam faksi pemberontak tersebut.

Pertaruhan pemerintah kini terletak pada sejauh mana mereka bisa memanfaatkan momentum ini untuk menekan sisa-sisa anggota lainnya. Jika operasi kali ini benar-benar mampu mengganggu rantai pasok logistik dan pendanaan narkotika kelompok tersebut, maka ini akan jadi kemenangan besar bagi Espriella.

Namun, selama hutan-hutan di perbatasan masih menjadi tempat persembunyian yang aman, ancaman dari kelompok disiden FARC ini kemungkinan besar masih akan membayangi warga Kolombia untuk waktu yang lama.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda