Kamis, 3 September 2026 WIB
BREAKING
POLITICS

OJK Optimistis Gejolak Global Bisa Diredam, Kredit Perbankan Menguat

OJK Optimistis Gejolak Global Bisa Diredam, Kredit Perbankan Menguat
OJK Optimistis Gejolak Global Bisa Diredam, Kredit Perbankan Menguat

Kredit perbankan Indonesia sedang bergerak naik. Di saat yang sama, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyatakan Indonesia punya ruang untuk meredam dampak gejolak ekonomi global, meski tekanan geopolitik dan harga minyak masih terasa.

Pernyataan itu disampaikan Friderica dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia yang digelar Metro TV di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis, 3 September 2026. Ia menekankan sektor jasa keuangan masih menunjukkan indikator yang sehat, sehingga pemerintah dan otoritas dinilai masih punya pijakan kuat untuk menjaga stabilitas.

Modal domestik masih jadi tumpuan

Friderica mengajak publik membaca situasi ekonomi dengan kepala dingin. Menurut dia, tantangan yang datang dari luar negeri memang nyata. Konflik geopolitik telah mengerek harga minyak dan memicu tekanan ke banyak negara. Indonesia ikut merasakan getarannya, tapi tidak sendirian.

“Kita harus bisa melihat semua permasalahan kita secara bijak, dan bersama-sama menumbuhkan optimisme di tengah segala keterbatasan yang saat ini memang kita hadapi,” ujar Friderica. Kalimat itu ia sampaikan di forum yang menghadirkan para ekonom dan pemangku kepentingan sektor keuangan. Nada pesannya jelas. Jangan panik dulu.

Dalam pembacaan OJK, kekuatan sistem keuangan domestik masih menjadi bantalan utama. Di tengah pasar global yang mudah berubah, lembaga ini menilai kondisi sektor jasa keuangan tetap berada dalam jalur yang aman. Itu yang membuat OJK percaya Indonesia masih punya kemampuan menahan rambatan masalah dari luar.

Kredit tumbuh, tapi UMKM belum kencang

Di forum yang sama, Friderica juga menyinggung kredit UMKM yang belum bergerak secepat harapan. Awal tahun, pertumbuhannya masih berada di zona negatif. Sekarang angkanya mulai membaik dan berada di kisaran satu persen. Naik, tapi belum cukup.

Ia menyebut capaian itu sebagai tanda awal yang positif. Namun OJK melihat pergerakan tersebut belum bisa dibiarkan berjalan sendiri. Dukungan lintas kementerian dan lembaga masih dibutuhkan agar pembiayaan untuk pelaku UMKM benar-benar menyalur ke bawah. Soalnya, sektor inilah yang paling cepat merasakan tekanan saat ekonomi global goyah.

Friderica menekankan perlunya keberpihakan nyata dari sektor jasa keuangan dan seluruh pihak terkait. Koordinasi antarlembaga, menurut dia, penting untuk memperluas akses pembiayaan. Bagi OJK, kredit UMKM yang pulih pelan-pelan harus dijaga agar tidak kembali tersendat.

Pasar keuangan diminta ikut jaga ritme

Di sisi perbankan, data yang beredar sebelumnya menunjukkan industri masih punya penyangga modal yang kuat. OJK mencatat rasio kecukupan modal perbankan pada Januari 2026 berada di level 25,87 persen, meski turun dari 27,01 persen pada periode yang sama tahun lalu. Angka itu masih dinilai cukup untuk menjadi peredam risiko ketika ketidakpastian global dan domestik belum juga reda.

OJK juga menilai ada bank-bank tertentu yang perlu dipantau karena posisi modalnya relatif tipis. Namun secara industri, bantalan permodalan tetap dianggap memadai. Artinya, ruang gerak perbankan masih ada. Kredit pun masih bisa terus didorong, selama likuiditas dan kualitas aset dijaga rapat.

Pesan Friderica di Jakarta siang itu terasa sederhana tapi tegas: Indonesia tidak sedang tanpa masalah, namun juga tidak sedang kehilangan pegangan. Setelah forum Sarasehan 100 Ekonom Indonesia, perhatian kini tertuju pada langkah lanjutan OJK bersama kementerian dan lembaga lain untuk menjaga pembiayaan UMKM tetap bergerak saat gejolak global belum menunjukkan tanda mereda.

(AS)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda