Kabar duka datang dari sepak bola nasional pada Kamis pagi, 3 September 2026. Iwan Setiawan, mantan pemain sekaligus pelatih sepak bola Indonesia, wafat di usia 58 tahun.
Berita kepergiannya lebih dulu beredar lewat unggahan media sosial sebelum kemudian mendapat sorotan dari sejumlah kanal olahraga. Nama Iwan memang lekat dengan perjalanan panjang di sepak bola tanah air.
Sunyi. Mendadak.
Kabar duka dari ruang pelatih
Ucapan belasungkawa yang paling awal disorot datang dari eks pelatih Timnas Putri Indonesia, Rudy Eka Piyambada. Lewat Instagram pribadinya, Rudy menyampaikan penghormatan terakhir untuk sosok yang ia sebut sebagai pelatih berjiwa jujur dan panutan dalam karier kepelatihan.
Ia juga mengenang pertemuan terakhir mereka di NFD Jogja. Dari unggahannya, tampak kedekatan yang lahir bukan sekadar relasi antarpelatih, melainkan hubungan senior-junior yang dibangun di lapangan dan ruang diskusi sepak bola. Rudy menutup pesannya dengan doa agar amal ibadah Iwan diterima di sisi Allah.
Kabar itu kemudian menyebar cepat di kalangan pencinta bola nasional. Akun-akun komunitas sepak bola ikut menyampaikan duka. Salah satunya menyebut Iwan sebagai pelatih senior yang sangat dikenal dan punya jejak panjang di Indonesia.
Jejak panjang di lapangan hijau
Sebelum dikenal sebagai pelatih, Iwan Setiawan lebih dulu meniti karier sebagai pemain. Ia pernah memperkuat Pelita Jaya, Arseto, dan Persija Jakarta. Ia juga tercatat membela Timnas Indonesia di kelompok umur.
Kariernya di lapangan tidak berjalan mulus. Cedera memutus laju sebagai pemain terlalu cepat. Dari situ, Iwan bergeser ke jalur kepelatihan dan justru membangun reputasi yang membuat namanya bertahan lama di sepak bola nasional.
Dalam perjalanan sebagai pelatih, Iwan dikenal sebagai sosok lokal yang melegenda. Radar Malang menulis bahwa ia pernah menangani sejumlah klub, termasuk Persema Malang. Akun resmi klub itu juga menyampaikan belasungkawa dan menyebut Iwan sebagai pelatih legendaris yang pernah menjadi bagian dari Bledek Biru, julukan Persema.
Warisan nama yang sulit dilupakan
Kepergian Iwan meninggalkan ruang kosong yang terasa nyata, terutama bagi mereka yang pernah bekerja bersamanya. Di sepak bola Indonesia, nama lama seperti Iwan kerap tak hanya diingat karena hasil pertandingan, tetapi juga karena karakter di ruang ganti, cara bicara, dan kedekatannya dengan para pemain muda.
Pengakuan dari Rudy Eka memberi petunjuk tentang pengaruh itu. Ia bukan cuma mantan pelatih atau eks pemain. Bagi sebagian orang di lingkungan sepak bola, Iwan adalah rujukan. Sosok yang keras di jalur profesi, tapi hangat dalam relasi personal. Dan itu yang membuat kabar wafatnya cepat memantik reaksi emosional.
Hingga kabar terakhir beredar, ucapan duka terus mengalir di media sosial. Satu hal masih ditunggu banyak pihak: bagaimana penghormatan lanjutan dari komunitas sepak bola nasional terhadap figur yang sudah puluhan tahun berada di orbitnya. Gelombang belasungkawa belum berhenti.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.