Dalam jangka pendek, paparan abu vulkanik dapat memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk kering, sesak napas, terutama pada penderita asma, serta iritasi mata. Dalam jangka panjang, endapan silika bebas di paru-paru berisiko membentuk jaringan parut permanen atau silikosis, yang menurunkan fungsi paru-paru secara drastis.
Di Kota Tangerang, Dinas Kesehatan juga mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan setelah sebaran abu meluas ke wilayah mereka. Keterangan ini sejalan dengan laporan ANTARA yang menyebut area terdampak sudah menjangkau Tangerang dan sekitarnya.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan, menurut Bisnis.com, telah mengaktifkan Health Emergency Operating Center (HEOC) di wilayah terdampak untuk mempercepat respons kesehatan.
Apa yang perlu dilakukan warga
Para ahli menyarankan warga membatasi aktivitas di luar ruangan saat sebaran abu masih pekat. Jendela dan pintu rumah sebaiknya ditutup agar abu tidak mudah masuk. Bila terpaksa keluar, masker dengan filtrasi tinggi seperti N95 atau KN95 lebih disarankan karena masker kain biasa tidak cukup menahan partikel mikroskopis.
Kacamata pelindung juga dianjurkan agar mata tidak langsung terkena abu. Jika mata sudah teriritasi, bilas dengan air bersih dan jangan dikucek. Pakaian tertutup membantu mengurangi paparan pada kulit, sedangkan pakaian yang terlanjur terkena abu sebaiknya dibilas air terlebih dahulu sebelum dibersihkan lebih lanjut.
Makanan dan sumber air perlu ditutup rapat agar tidak tercemar kandungan silika maupun asam dari abu vulkanik. Bila muncul sesak napas, nyeri dada, atau sakit mata, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Informasi resmi dari lembaga pemerintah dan para ahli tetap jadi rujukan utama selama sebaran abu masih berlangsung.
Di lapangan, perhatian berikutnya tertuju pada seberapa luas sebaran abu dan bagaimana fasilitas kesehatan di wilayah terdampak menyiapkan layanan cepat bila keluhan warga bertambah.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.