Clark menyebut dirinya langsung terpikat ketika pertama kali masuk ke properti itu. “I was inspired to buy this 81-room hotel the moment I walked the property and set foot inside the pool atrium,” ujarnya. Ia yakin ruang atrium kolam itu bisa bertahan lama jika elemen lain di properti dibuat dengan tepat.
Namun, kondisi awal properti ini jauh dari mulus. Kolam dan hot tub harus ditutup karena rusak parah. Lift juga bermasalah. Beberapa sistem HVAC perlu diganti, dan pekerjaan HVAC saja membutuhkan crane khusus serta unit komersial berukuran besar.
Lobby pun sedang ditutup karena tamu sulit bergerak di area itu. Bagi Clark, penyelesaian bagian ini jadi prioritas dalam beberapa pekan ke depan. Setelah bangunan tak mendapat perawatan layak selama lebih dari 30 tahun, ia mengaku menemukan banyak kejutan tak terduga selama renovasi berlangsung.
Apa yang ditawarkan Hotel Expedition
Clark tidak hanya ingin memperbaiki bangunan. Ia ingin menjual pengalaman. Dalam proyek yang ia beri nama Hotel Expedition, fasilitas yang direncanakan mencakup spa dengan terapis pijat internal, yoga pagi, kelas membuat gelang, malam film di tepi kolam, serta s’mores kits untuk dinikmati di sekitar fire pit.
Tujuannya jelas: tamu merasa seperti menginap di resor kelas atas, tapi tanpa harga yang setinggi resor mewah. Clark mengatakan ia ingin menawarkan amenitas untuk tamu yang mencari lebih dari sekadar tempat tidur dan shower hangat.
Harga kamar yang ia bidik juga berlapis. Pada hari kerja, tarif malam diperkirakan mulai dari sekitar US$110. Saat akhir pekan dengan acara khusus, tarifnya bisa mencapai US$380, tergantung musim.
Untuk memahami tamu yang menjadi sasaran, Clark bahkan bepergian ke berbagai kota di Amerika Serikat, dan sesekali ke luar negeri, demi mempelajari hotel-hotel dengan audiens serupa. Pendekatannya terdengar sederhana, tapi justru di situ letak pentingnya: ia tidak sekadar membangun hotel, melainkan membaca selera pasar lebih dulu.
Dampaknya ke industri dan pembaca jelas terasa. Model seperti ini menunjukkan bahwa hotel lama tidak selalu harus dibongkar. Dengan renovasi yang tepat, properti lawas bisa dihidupkan lagi dan diposisikan sebagai pengalaman, bukan sekadar tempat singgah.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.