JAKARTA — Erupsi Gunung Anak Krakatau bukan sekadar bencana geologi. Dampaknya menyapu seluruh rantai ekonomi pariwisata, dari pembatalan penerbangan hingga rugi UMKM lokal. Anggota Komisi VII DPR RI Gandung Pardiman mengingatkan pemerintah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman yang berulang di kawasan Ring of Fire ini.
Gandung mengatakan aktivitas erupsi gunung berapi berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap sektor pariwisata nasional melalui gangguan konektivitas transportasi, penurunan kunjungan wisatawan, serta terganggunya aktivitas pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Erupsi gunung berapi bukan hanya persoalan kebencanaan, tetapi juga persoalan ekonomi dan pariwisata,” ujarnya dalam keterangan tertulis Selasa, 8 September 2026.
Momentum pariwisata Indonesia sebelum erupsi Anak Krakatau justru menunjukkan pertumbuhan positif. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada Mei 2026, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai sekitar 1,38 juta kunjungan, tumbuh 5,83 persen secara tahunan. Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 106,16 juta perjalanan, meningkat 8,69 persen secara tahunan.
Namun, beberapa daerah sudah menunjukkan fluktuasi. Sumatera Utara menjadi contoh konkret: kunjungan wisatawan mancanegara pada Juni 2026 mencapai 23.129 kunjungan atau turun 17,76 persen dibandingkan Mei 2026, meskipun secara kumulatif Januari–Juni 2026 masih tumbuh 9,57 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Konektivitas Transportasi Lumpuh, Ribuan Penerbangan Batal
Sebaran abu vulkanik pada awal September 2026 langsung menunjukkan dampak nyata. Delapan bandara sempat terdampak atau ditutup sementara, termasuk Bandara Soekarno-Hatta. Pada 7 September, hampir 3.000 penerbangan mengalami pembatalan atau penundaan dengan sekitar 341.000 penumpang terdampak. Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 622 penerbangan internasional.
“Ketika penerbangan terganggu, wisatawan membatalkan atau menunda perjalanan, hotel mengalami penurunan okupansi, restoran dan UMKM kehilangan pelanggan, maka dampaknya masuk ke seluruh rantai ekonomi pariwisata,” jelas Gandung. Efek berantai ini tidak hanya mengganggu destinasi wisata yang langsung terdampak, tetapi juga wilayah-wilayah lain yang bergantung pada konektivitas penerbangan.
Pasar Pariwisata Sensitif terhadap Gangguan Persepsi Keamanan
Indonesia memiliki potensi pariwisata yang sangat besar, namun pada saat bersamaan memiliki tingkat kerawanan bencana alam yang tinggi karena berada di kawasan Ring of Fire. Kombinasi ini menciptakan paradoks yang menantang bagi pengembangan sektor pariwisata jangka panjang.
Gandung menekankan bahwa pasar pariwisata Indonesia masih memiliki momentum pertumbuhan, tetapi sangat sensitif terhadap gangguan konektivitas dan persepsi keamanan. “Karena itu, erupsi gunung berapi harus ditangani dengan mitigasi yang cepat dan komunikasi publik yang tepat,” katanya.
Pemerintah perlu tidak hanya merespons erupsi saat terjadi, tetapi juga membangun sistem antisipasi bencana yang mengintegrasikan sektor pariwisata, penerbangan, perhotelan, dan UMKM kreatif. Tanpa koordinasi lintas sektor dan komunikasi yang efektif, dampak ekonomi akan terus melebar meski erupsi berlangsung singkat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.