JAKARTA — Wakil Ketua DPR Saan Mustopa langsung menyampaikan pesan keras kepada para jurnalis: jangan tergesa dalam meliput bencana. Keselamatan harus jadi prioritas utama sebelum turun ke lapangan, apalagi di wilayah yang risiko tinggi.
Peringatan itu muncul menyusul hilangnya lima wartawan yang sedang meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Mereka hilang kontak sejak Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB setelah berlayar dari Dermaga Marina, Lippo Carita, Carita, Kabupaten Pandeglang.
“Penting untuk mentaati berbagai risiko ketika melakukan peliputan, khususnya di daerah-daerah yang terkena bencana,” jelas Saan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (9/9). “Apalagi daerah-daerah yang terkena bencananya itu menimbulkan risiko bagi tidak hanya masyarakat, tapi juga bagi para peliput.”
Keselamatan Jangan Dikorbankan demi Berita
Saan mengakui bahwa kebutuhan untuk mendapatkan informasi terkini dari lapangan tetap penting. Tapi itu bukan alasan untuk mengabaikan protokol keselamatan. Persiapan matang dan perlindungan diri harus berjalan beriringan dengan misi jurnalistik.
“Jangan sampai melakukan peliputan ke daerah yang sangat berisiko tanpa mempersiapkan faktor keselamatan,” tegasnya. “Jangan sampai dia nyari berita tapi dia menjadi objek berita.”
Momen ini menunjukkan betapa rapuhnya posisi jurnalis lapangan. Di tengah urgency mendapatkan cerita segar, tekanan deadline, dan ekspektasi publik akan informasi real-time, wartawan sering kali terpaksa mengambil risiko terukur—bahkan melampaui batas aman.
Peringatan Saan seolah reminder bahwa industri jurnalistik harus membangun budaya di mana keselamatan peliput bukan sekedar catatan kaki, melainkan fondasi dari setiap operasi liputan bencana.
Lima Jurnalis Masih Hilang, DPR Dorong Pencarian Maksimal
Lima wartawan yang hilang kontak itu berasal dari berbagai outlet: Muhammad Bagus Khoirunas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka, Yudis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal seorang freelancer. Mereka menaiki speedboat yang juga membawa satu tour guide dan dua kru kapal.
Kades Sukajadi Sandi Wyasa mengonfirmasi bahwa kontak terakhir datang dari tour guide bernama Heri Bonsay. “Dia sempat mengirim foto ke istrinya sekitar jam 18.14 WIB dan bilang aman. Tapi setelah itu enggak ada kabar lagi,” tutur Sandi.
Rombongan seharusnya kembali Senin malam. Mereka berangkat pukul 14.00, tiba di Krakatau sekitar pukul 16.00, dan direncanakan pulang jam 20.00. Namun kondisi laut yang kritis—angin selatan bertiup kencang—menjadi faktor yang mengkhawatirkan. Tidak jelas apakah cuaca buruk mengganggu komunikasi, merusak kapal, atau keduanya.
Saan menekankan urgensi pencarian. “DPR akan mendorong kepada seluruh pihak, terutama Basarnas dan yang lain, untuk secara sungguh-sungguh dan terus-menerus mencari keberadaan kelima jurnalis tersebut.” Dia menekankan bahwa kepastian keberadaan mereka penting tidak hanya bagi para wartawan sendiri, tapi juga keluarga yang menunggu di rumah.
“Sekali lagi, DPR terus akan berupaya mendorong seluruh pihak terkait untuk secara sungguh-sungguh dan maksimal mencari keberadaan mereka,” pungkasnya.
Insiden ini menyoroti tantangan yang dihadapi jurnalis Indonesia saat meliput peristiwa ekstrem—erupsi gunung, banjir, gempa, angin kencang. Misi mereka mulia, tapi risiko real. Kali ini, lima jurnalis dan tiga pendamping belum terbukti selamat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.