Dalam penjelasannya kepada Bisnis.com, Dwi juga menyoroti bahwa bencana karhutla ikut berdampak pada seluruh ekosistem pendukung pariwisata. Objek wisata, agensi perjalanan, restoran, hingga pelaku UMKM yang banyak berasal dari warga lokal ikut merasakan tekanannya.
Stimulus dan alternatif destinasi jadi harapan
Untuk menahan kerugian yang makin besar, PHRI Jatim berharap ada langkah konkret dari pemerintah daerah. Asosiasi itu mengusulkan skema insentif berupa program bundling harga, potongan harga tiket masuk destinasi alternatif, sampai subsidi atau stimulus bagi pelaku usaha terdampak.
Dwi memberi gambaran sederhana soal yang dibutuhkan pasar saat destinasi utama tertutup karena kondisi alam. Menurut dia, harus ada destinasi pengganti yang dibarengi kompensasi agar wisatawan tetap punya pilihan dan tidak merasa perjalanan mereka sia-sia.
“Ketika destinasi utama ditutup karena kondisi alam, harus ada alternatif destinasi pengganti dengan kompensasi. Misalnya diskon tiket atau paket khusus. Kami berharap pemerintah bisa hadir memberikan kemudahan agar wisatawan tidak terlalu kecewa dan teman-teman pelaku jasa pariwisata tetap bisa bertahan,” harapnya.
Bagi pembaca yang mengikuti bisnis wisata, dampaknya jelas: keputusan kecil di satu titik bisa merembet ke banyak usaha lain dalam rantai pariwisata. Begitu destinasi utama terganggu, uang yang biasanya berputar di hotel, transportasi, makan-minum, dan suvenir ikut melambat. Pelaku usaha kecil biasanya paling cepat merasakan tekanannya.
PHRI Jatim juga meminta pelaku usaha jasa pariwisata di wilayah terdampak untuk menangguhkan program kerja maupun promosi yang belum terlalu mendesak. Langkah itu dinilai bisa menekan pemborosan di saat permintaan sedang melemah.
Di saat yang sama, pelaku usaha disarankan menyusun program baru bersama dengan bundling paket yang sudah tersedia. Alternatif lain yang ditawarkan adalah paket wisata minat khusus, yang bisa menjadi pengganti sementara saat destinasi utama belum pulih.
“Antisipasi jika hal ini terus berlangsung, kita tangguhkan dahulu program dan promosi yang tidak terlalu mendesak. Teman-teman pelaku usaha jasa wisata bisa menyusun program baru bersama dengan bundling paket sembari menginformasikan update situasi ke konsumen,” paparnya.
Langkah berikutnya ada di tangan pemerintah daerah dan pelaku industri wisata. Kalau dukungan cepat turun dan jalur promosi alternatif dibuka, tekanan pada okupansi hotel masih bisa ditahan. Kalau tidak, angka-angka yang sudah turun ini berisiko bergerak lebih jauh pada pekan depan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.