Kemacetan panjang di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, belum juga terurai. Pada Rabu, 18 Maret, antrean kendaraan roda dua dan roda empat masih mengular sampai Pura Tirta Segara Rupek, sekitar delapan kilometer dari pelabuhan, saat arus menuju Ketapang, Banyuwangi, terus tersendat.
Situasi itu sudah memakan korban. Seorang ibu rumah tangga asal Kebumen, Jawa Tengah, dilaporkan meninggal dunia setelah pingsan saat menunggu berjam-jam di dalam bus untuk keluar dari Bali. Sebelumnya, 17 pemudik juga tumbang karena kelelahan dan paparan cuaca panas saat mengantre masuk kapal. Berat sekali tekanannya.
Antrean panjang yang tak kunjung putus
Antrean parah di Gilimanuk muncul sejak Minggu, 15 Maret. Pakar transportasi menilai kondisi itu menunjukkan Kementerian Perhubungan lalai menjalankan manajemen penyeberangan laut. Peneliti Senior Inisiatif Strategis Transportasi (INSTRAN), Deddy Herlambang, menyebut kementerian semestinya sudah membaca risiko lonjakan mudik Idulfitri yang berdekatan dengan Hari Raya Nyepi.
“Waktu Nyepi sama Lebaran mepet,” kata Deddy dengan nada geram. Ia menilai peringatan soal jadwal yang berhimpitan itu sudah disampaikan jauh-jauh hari, tapi antisipasi di lapangan tetap terlihat minim. Akibatnya, kendaraan menumpuk. Ruang gerak habis. Waktu habis juga.
Di lapangan, kondisi itu bukan cuma membuat perjalanan tertunda. Penumpang harus bertahan di bus, pengendara roda dua menunggu dalam antrean, dan arus menuju pelabuhan ikut tertahan. Dalam situasi seperti ini, cuaca panas dan lamanya menunggu berubah jadi beban kesehatan yang nyata.
Respons yang dinilai terlambat
Gilimanuk memang jadi simpul penting pada arus penyeberangan Bali–Jawa. Saat lonjakan pemudik datang berbarengan dengan hari besar keagamaan, tekanan di titik ini langsung terasa. Itu yang terjadi kali ini. Antrian kendaraan mengular jauh sebelum pintu pelabuhan, dan warga yang terjebak tak punya banyak pilihan selain menunggu.
INSTRAN menilai masalah utamanya ada pada antisipasi. Kemenhub, menurut Deddy, semestinya menyiapkan manajemen penyeberangan laut dengan lebih sigap karena pola puncak arus mudik sudah bisa terbaca sejak awal. Tapi kenyataan di Gilimanuk menunjukkan penanganan itu belum memadai. Macet bertahan. Penumpukan bertambah.
Kondisi tersebut juga memperlihatkan rapuhnya pengaturan arus ketika dua momentum besar bertemu: mudik Idulfitri dan Nyepi. Di titik seperti Gilimanuk, satu gangguan kecil bisa langsung meluas. Dan ketika kendaraan tidak bergerak selama berjam-jam, dampaknya cepat menjalar ke mana-mana, dari kesehatan penumpang sampai kelancaran logistik orang yang menyeberang.
Pada saat antrean masih menumpuk, kabar duka dari Kebumen menjadi penanda paling keras bahwa kemacetan ini bukan sekadar soal telat sampai tujuan. Deddy menegaskan, “Kami sudah peringatkan jauh-jauh hari, Nyepi sama Lebaran waktunya mepet.”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.