Sikap toleran, sabar, dan saling menghargai yang terasah di rumah adalah modal sosial yang sangat berharga bagi Indonesia yang majemuk. Ketika keluarga-keluarga di Indonesia mampu menjaga harmoni internal, maka potensi konflik di masyarakat luas dapat diredam. Inilah inti dari pesan yang ia sampaikan kepada jajaran Pengajian Al-Hidayah.
Ia memandang keluarga bukan cuma soal ikatan darah, melainkan tempat persemaian akhlak. Sosok suami yang mencontoh kepemimpinan Nabi akan membawa ketenangan dalam rumah tangga, yang pada gilirannya menciptakan iklim saling percaya. Begitu pun sebaliknya, setiap anggota keluarga memiliki peran dalam merawat integritas moral yang dibutuhkan bangsa saat ini.
Peringatan Maulid Nabi tahun ini pun diharapkan menjadi pemantik bagi seluruh elemen organisasi untuk tidak hanya berhenti pada retorika. Sarmuji menaruh harapan besar agar semangat yang dipupuk oleh Pengajian Al-Hidayah mampu menghasilkan perubahan perilaku nyata di tingkat akar rumput.
Persaudaraan yang kokoh tidak akan terbentuk dari pidato-pidato di podium, melainkan dari kepedulian sosial yang dipraktikkan secara konsisten mulai dari pintu rumah masing-masing.
Sebagai langkah ke depan, organisasi ini didorong untuk terus menjadi motor penggerak yang mampu menerjemahkan nilai-nilai universal Islam ke dalam aksi sosial yang lebih konkret. Dengan memperkuat keluarga, Sarmuji meyakini bahwa benteng persatuan bangsa Indonesia akan semakin sulit ditembus oleh polarisasi yang sering kali mengancam kerukunan di tengah keberagaman.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.