Reddington juga mengatakan ia berharap ada peluang bagi kedua pihak untuk mencapai kesepakatan setelah menyimak seluruh bukti di persidangan. Ia menyebut hasil 11-1 itu seolah lebih dekat ke putusan tidak bersalah karena alasan gangguan jiwa.
Clancy sendiri tidak membantah bahwa ia mencekik ketiga anaknya hingga tewas di ruang bawah tanah rumahnya di Massachusetts sebelum mencoba mengakhiri hidupnya. Namun, pengacaranya berargumen bahwa psikosis pascapersalinan mendorong tindakan itu dan membuatnya lumpuh serta duduk di kursi roda. Jaksa menilai Clancy tahu apa yang ia lakukan ketika membunuh ketiga anaknya.
Perselisihan soal juri dan tanggung jawab medis
Reddington juga menarik ucapannya saat sebelumnya mengatakan kasus ini “crushed” jaksa Tim Cruz. Ia mengakui emosinya tinggi seusai persidangan yang panjang dan menyebut pernyataan itu sebagai bravado. Namun, ia tidak menyesal telah bicara keras soal arah perkara ini.
Terkait satu juri yang bertahan, Reddington mengatakan dirinya tidak marah pada orang itu. Yang membuatnya kesal adalah catatan ke pengadilan bahwa juri tersebut “had doubt but he would not apply reasonable doubt as presented by the judge.”
“That’s not right, and that’s why I was upset,” kata sang pengacara. Ia juga menegaskan bahwa ia akan membela hak juri tersebut untuk bertahan pada pendapatnya. “I would defend that individual’s right to be a holdout forever; that’s part of our judicial system. I respect that and I would certainly defend his right to do that,” ujarnya.
Di titik lain, Reddington justru menyalahkan tim medis dan sistem yang menurutnya gagal membantu Clancy. Ia menyebut pertemuan Clancy dengan psikiaternya sebagai “the worst thing she could have done,” karena sang dokter disebut hanya berpraktik sebulan tetapi mengaku ahli depresi pascapersalinan.
Reddington menambahkan bahwa Clancy sempat menulis kepada keluarganya bahwa dirinya menderita sangat parah dan dua kali menghubungi layanan hotline bunuh diri. “This girl’s life was ruined,” katanya. Perkara ini kini menunggu langkah berikutnya, termasuk kemungkinan retrial, setelah sidang pertama resmi berakhir tanpa putusan final.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.