Jumat, 11 September 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

CCTV sekolah bongkar dugaan mesum kepsek dan guru di Pekalongan

CCTV sekolah di ruang guru SD Pekalongan
CCTV sekolah dipasang diam-diam di atap ruang guru SD di Langkap, Kedungwuni, Pekalongan. (Ilustrasi: AI)

PEKALONGAN — CCTV sekolah yang dipasang diam-diam di ruang guru SD di Langkap, Kedungwuni, Pekalongan, disebut menjadi kunci terbongkarnya dugaan perbuatan mesum antara kepala sekolah dan seorang guru. Kamera itu dipasang warga dan komite sekolah setelah muncul kecurigaan atas aktivitas tak biasa yang disebut berlangsung berulang.

Rekaman dari kamera portabel itu belakangan beredar di media sosial. Dalam video yang disebut berasal dari CCTV sekolah tersebut, tampak keduanya berada di kursi sebuah ruangan dan melakukan hubungan badan. Peristiwa ini ramai dibicarakan setelah unggahan akun Facebook Pekalongan Berita ikut menyebarkan potongan narasi dari rekaman itu.

CCTV sekolah dipasang dari atap ruang guru yang jebol

Tokoh masyarakat sekitar sekolah, Saim (46), mengatakan kamera itu disisipkan di bagian atap ruang guru yang berlubang. Cara itu dipilih agar orang di dalam ruangan tidak menyadari keberadaan kamera.

“Di ruang guru itu ada atap yang jebol. Itu dimanfaatkan untuk menyisipkan CCTV di atasnya. Jadi yang di ruangan itu juga tidak mengetahui bahwa di atas itu ada CCTV,” ungkap Saim saat dihubungi detikJateng, Selasa (8/9/2026).

Menurut Saim, pemasangan kamera dilakukan pada akhir Juli 2026. Langkah itu muncul setelah komite sekolah dan warga mencurigai ada aktivitas tak biasa antara kepsek dan guru tersebut. Kecurigaan itu bukan datang sekali dua kali. Warga menyebut pola yang sama terjadi berulang, bahkan disebut sudah seperti rutinitas setiap Rabu dan Sabtu.

“Itu dilakukan bukan hanya sekali. Bahkan itu sudah menjadi kegiatan rutinitas yang dilakukan setiap hari Rabu dan hari Sabtu,” ujar dia.

Sejumlah guru lain dan wali murid pun disebut sempat mengetahui perilaku itu. Tapi ketika ditegur, kepsek dan guru tersebut dikatakan mengelak. Situasi itu membuat warga dan komite sekolah memilih mengumpulkan bukti lewat kamera pengawas.

“Nah, sempat… Iya, sempat kepergok dengan guru, sempat kepergok dengan wali murid, ketika ditegur itu mengelak,” kata Saim.

“Makanya dari komite sekolah ada inisiatif memasang CCTV itu untuk bisa mengambil bukti apa yang dilakukan keduanya,” sambungnya.

Patungan Rp200 ribu untuk bukti

Kamera portabel itu tidak dipasang dengan anggaran besar. Saim menyebut perangkat tersebut dibeli patungan dengan biaya sekitar Rp200 ribu. Dana itu dikumpulkan warga dan komite sekolah untuk memastikan dugaan yang beredar tidak berhenti di obrolan.

Pemasangan dilakukan sekitar akhir Juli 2026, sebelum Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan atau MPLS. Waktu pemasangan ini membuat warga punya ruang untuk memantau apa yang terjadi di ruangan guru tanpa diketahui pihak yang diduga terlibat.

Di titik ini, dampaknya terasa jauh melampaui satu rekaman video. Kasus seperti ini menyentuh kepercayaan dasar orang tua pada sekolah, terutama soal keamanan lingkungan belajar anak.

Begitu kabar beredar, sorotan tidak lagi hanya tertuju pada dua orang yang diduga terlibat, tapi juga pada bagaimana komite, warga, dan pihak sekolah merespons saat kecurigaan muncul.

Publik akan menaruh tanya besar pada pengawasan internal sekolah, apalagi bila ruang guru bisa dipakai untuk tindakan yang disebut berlangsung rutin.

Saim juga menyebut masih ada rekaman lain yang lebih vulgar dan sudah diamankan pihak sekolah. Rekaman yang sempat beredar di media sosial baru satu bagian dari bukti yang diklaim warga sudah dikumpulkan sejak akhir Juli 2026.

“CCTV tersebut, dibeli secara patungan dengan biaya sekitar Rp200 ribu,” imbuh dia.

Unggahan yang ikut menyebarkan kabar ini menulis, “VIRAL! Bocor Rekaman CCTV Diduga Ungkap Kemesraan Oknum Kepala Sekolah dan Guru SD di Desa Langkap, Kedungwuni,” seperti dikutip dari akun Facebook Pekalongan Berita yang dilihat detikJateng.

Hingga informasi ini disusun, sumber yang dikutip dalam laporan awal masih bertumpu pada keterangan warga, komite sekolah, dan rekaman yang telah beredar. Kasus ini juga memperlihatkan bagaimana satu CCTV sekolah bisa mengubah dugaan jadi bahan bukti yang sulit dihindari.

“Makanya dari komite sekolah ada inisiatif memasang CCTV itu untuk bisa mengambil bukti apa yang dilakukan keduanya,” kata Saim.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 11 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online