Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak pemerintah untuk segera memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga lima jurnalis beserta kru kapal dan pemandu yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Peristiwa nahas ini terjadi pada Senin, 7 September 2026, saat mereka tengah menjalankan tugas peliputan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Hingga hari kelima pencarian, belum ada tanda-tanda keberadaan rombongan tersebut, yang memicu kecemasan mendalam bagi pihak keluarga yang menanti di posko darurat.
Puan menegaskan bahwa dukungan moral bagi keluarga korban sama pentingnya dengan upaya fisik di lapangan. Dia meminta pemerintah tidak hanya fokus pada pencarian di laut, tetapi juga memastikan keluarga mendapatkan jaminan informasi yang akurat secara berkala.
Ketidakpastian nasib orang terkasih di tengah luasnya Selat Sunda tentu menguras tenaga dan mental mereka yang ditinggalkan. Pendampingan psikologis menjadi mutlak untuk diberikan demi menjaga stabilitas kondisi emosional pihak keluarga selama proses operasi berlangsung.
Memperkuat Barisan Pencarian
Empati mendalam disampaikan Puan atas musibah yang menimpa rekan-rekan media. Dia memberikan apresiasi atas respons cepat Presiden Prabowo Subianto yang langsung memerintahkan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali untuk terjun langsung memimpin bantuan armada TNI AL.
Tambahan kekuatan dari militer diharapkan menjadi titik balik bagi Tim SAR gabungan agar cakupan wilayah penyisiran dapat lebih luas dan efektif.
Nama-nama yang hilang dalam insiden ini antara lain M. Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita Antara, Ari Basuki dari Merdeka.com, dan Yudistiro Pranoto dari iNews.id. Selain mereka, ada Firman Daus dari Anadolu Agency serta jurnalis lepas Donal Husni.
Mereka menumpang kapal bersama satu orang pemandu lokal dan dua kru kapal. Identitas para korban kini terpampang di posko pemantauan, menjadi pengingat akan tugas berat yang sedang diemban tim penyelamat di lapangan.
Upaya pencarian saat ini tidak hanya menyisir permukaan laut, tetapi juga mendekati kawah Gunung Anak Krakatau yang masih aktif. Gubernur Banten Andra Soni bahkan sudah turun langsung ke Pantai Marina Carita untuk meninjau Pos SAR. Di sana, Andra mendengarkan masukan langsung dari pihak keluarga yang berharap radius pencarian diperlebar hingga menyentuh Pulau Sertung.
Medan di perairan Selat Sunda dikenal cukup menantang, apalagi dengan kondisi cuaca yang sering berubah mendadak. Meski begitu, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan institusi militer terus ditingkatkan.
Peralatan canggih milik TNI AL kini difokuskan untuk memindai area-area yang sulit dijangkau oleh kapal patroli biasa, guna meminimalisir kemungkinan ada titik yang terlewat oleh tim di lapangan.
Puan menyatakan keyakinannya bahwa dengan tambahan armada dan personel, peluang menemukan rekan-rekan jurnalis dalam kondisi selamat bisa lebih besar. Fokus utama saat ini adalah kecepatan. Setiap detik sangat berharga dalam operasi pencarian di tengah laut lepas.
Puan juga meminta seluruh pihak untuk terus memanjatkan doa agar proses evakuasi yang dilakukan Tim SAR gabungan segera membuahkan hasil positif.
Hingga Jumat malam, tim SAR belum memutuskan untuk menghentikan operasi. Kapal-kapal TNI AL masih bertahan di titik koordinat yang ditentukan, dengan sorot lampu yang terus membelah kegelapan malam di Selat Sunda.
Sisa-sisa harapan masih tertumpu pada radar dan mata tajam personel yang bertugas di geladak kapal. Bagi keluarga, setiap laporan yang masuk dari posko menjadi satu-satunya pegangan di tengah guncangan nasib yang belum menentu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.