Data SKI 2023 memberi gambaran mengapa skrining tekanan darah perlu terus digencarkan. Dengan prevalensi pengukuran mencapai 30,8 persen, tapi diagnosis dokter baru 8,6 persen, ada jarak besar antara kondisi nyata di tubuh dan pengetahuan masyarakat soal kesehatannya sendiri.
Artinya, pemeriksaan rutin punya nilai praktis. Bukan hanya untuk orang yang sudah merasa punya keluhan, tetapi juga bagi mereka yang tampak sehat. Tekanan darah bisa tinggi tanpa rasa pusing, tanpa pegal, tanpa tanda yang jelas.
Studi Framingham ikut menguatkan sinyal risiko
Hubungan antara hipertensi, AFib, dan stroke juga terlihat dalam studi Framingham oleh Wolf et al. (1991). Penelitian terhadap 5.070 peserta itu menunjukkan bahwa hipertensi meningkatkan risiko stroke lebih dari tiga kali lipat.
Pada saat yang sama, AFib dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke hampir lima kali lipat. Temuan ini menegaskan bahwa tekanan darah tinggi bukan hanya angka di alat ukur, melainkan pintu masuk ke risiko yang lebih luas.
Bagi layanan kesehatan, temuan seperti ini memperkuat pentingnya deteksi dini dan pemantauan rutin. Bagi masyarakat, pesan utamanya sederhana: tekanan darah tidak boleh dibiarkan tanpa kontrol, apalagi jika sudah berulang kali tinggi.
Dampaknya terasa langsung di rumah dan di layanan kesehatan
Soalnya, hipertensi yang tidak terpantau bisa memengaruhi banyak hal sekaligus. Di keluarga, risiko biaya perawatan meningkat ketika komplikasi muncul mendadak. Di layanan kesehatan, beban penanganan penyakit jantung dan stroke ikut membesar karena banyak kasus sebetulnya berawal dari tekanan darah yang tak terkendali.
Kondisi ini juga membuat edukasi jadi penting. Pemeriksaan tekanan darah, pemahaman soal irama jantung, dan kebiasaan menjaga kesehatan kardiovaskular seharusnya tidak menunggu gejala datang. Justru di fase tanpa keluhan itulah pencegahan punya nilai paling besar.
Iwet Ramadhan, yang pernah mengalami stroke pada 2023, juga membagikan pengalaman pribadinya. Ia menyebut stroke yang dialaminya berkaitan dengan gaya hidup masa lalu, termasuk kebiasaan tidur larut malam karena pekerjaan, bahkan saat masa COVID-19 ketika ia pernah rapat hingga tengah malam.
Pengalaman itu membuatnya tak mau lagi tidur larut. Pesan yang tersisa sederhana, tapi keras: kebiasaan kecil yang dibiarkan bertahun-tahun bisa ikut menentukan risiko kesehatan di kemudian hari.
“Hipertensi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memberikan beban pada jantung dan pembuluh darah,” kata Dr. Decsa Medika Hertanto.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.