Senin, 14 September 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Surabaya Siapkan Diri Hadapi Musim Hujan Terlambat, El Niño Ancam Kekeringan

Ilustrasi ancaman kemarau panjang dan kesiapsiagaan Surabaya hadapi El Niño 2026, dengan visualisasi kekurangan air dan risik
Surabaya mempersiapkan diri menghadapi potensi musim hujan terlambat akibat El Niño 2026. Pemerintah kota memperkuat mitigasi melalui efisiensi air, pencegahan kebakaran, dan perlindungan ruang hijau. (Ilustrasi: AI)

SURABAYA — Hujan bukan sekadar soal cuaca bagi kota besar. Ketika terlambat datang, air keran berkurang, risiko kebakaran naik, suhu jalan melonjak, bahkan layanan dasar terancam.

Surabaya kini menghadapi ujian itu. Pemerintah kota dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sedang memperkuat kesiapsiagaan menghadapi El Niño yang diprakirakan bertahan hingga Februari 2027. Dampaknya sederhana: musim hujan akan mundur, dan kemarau berlangsung lebih lama serta lebih kering.

El Niño 2026 diproyeksikan mencapai puncak intensitas “melebihi kategori kuat” hingga awal kuartal pertama 2027. BMKG memperkirakan September hingga November 2026 akan mengalami curah hujan rendah hingga menengah, dengan karakteristik “bawah normal hingga normal”. Di Jawa Timur khususnya, periode Juni hingga November 2026 berpotensi mengalami penurunan curah hujan signifikan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya telah mengingatkan beberapa risiko serius: meningkatnya potensi kebakaran, paparan panas ekstrem, dehidrasi, dan tekanan keras terhadap ketersediaan air bersih. Edukasi mulai digelontorkan melalui sekolah, pesantren, lingkungan warga, hingga media sosial.

Air: Cadangan Menipis, Kebutuhan Melonjak

Ancaman pertama adalah air. Ketika curah hujan berkurang, tekanan ketersediaan air tidak selalu langsung terlihat sebagai kekeringan ekstrem. Masalahnya tersembunyi: cadangan air menurun, kebutuhan rumah tangga justru meningkat karena cuaca panas, dan beban infrastruktur air menjadi terseok-seok.

Pada awal September 2026, BMKG memproyeksikan sejumlah wilayah masih berpeluang mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan. Untuk kota dengan kepadatan permukiman tinggi seperti Surabaya, gangguan pasokan air mudah berubah menjadi persoalan sosial yang meluas.

Karena itu, efisiensi air perlu diterjemahkan dari slogan menjadi kebijakan nyata: pemerintah harus memantau wilayah-wilayah rentan, memastikan distribusi air kepada kelompok yang paling membutuhkan, dan menyampaikan informasi pasokan secara berkala dan jelas.

Masyarakat pun memiliki peran: penggunaan air sesuai kebutuhan, memperbaiki kebocoran di rumah, dan mengurangi pemborosan adalah langkah sederhana yang menjadi krusial jika dilakukan bersama-sama.

Vegetasi dan ruang resapan juga harus dijaga. Kota tidak hanya membutuhkan air ketika hujan turun, tetapi juga kemampuan untuk menyimpan dan mengelolanya saat hujan kembali hadir.

Ancaman Api: Dari Kebiasaan Sehari-hari

Kemarau yang lebih kering membawa ancaman lain yang lebih dramatis: kebakaran. BPBD Surabaya mengidentifikasi lingkungan kering dan kebiasaan membakar sampah di lahan terbuka sebagai risiko yang perlu dicegah sedini mungkin.

Di kota yang padat, api dapat menyebar dengan cepat ketika bahan mudah terbakar dan jarak antarbangunan berdekatan. Mitigasi tidak seharusnya hanya menunggu laporan setelah kebakaran terjadi.

Pemeriksaan lingkungan, edukasi rumah tangga tentang sumber api, kesiapan akses pemadam, dan pemetaan wilayah berisiko perlu dilakukan terus-menerus. Data setiap kejadian juga harus dianalisis untuk mengidentifikasi pola: lokasi berulang, waktu puncak, penyebab umum, dan kelompok rentan.

Panas: Ruang Hijau Bukan Sekadar Keindahan

Ancaman ketiga adalah paparan panas berlebihan. Minimnya tutupan awan saat El Niño memungkinkan radiasi matahari mencapai permukaan bumi lebih banyak. Dampaknya terasa lebih kuat di perkotaan akibat fenomena “pemanasan perkotaan” — beton, aspal, dan bangunan menyerap dan memancarkan panas lebih tinggi.

Di sini, ruang hijau dan pepohonan bukan sekadar unsur estetika. Vegetasi adalah bagian integral dari pertahanan kota terhadap panas, sekaligus membantu menjaga kenyamanan lingkungan dan keseimbangan hidrologi.

Mitigasi El Niño seharusnya menjadi kesempatan untuk menata ulang hubungan antara pembangunan fisik dan daya dukung lingkungan: kota tetap dapat berkembang, tetapi harus menyisakan ruang bagi air, udara, dan vegetasi.

Tantangan Terbesar: Dari Prediksi ke Aksi

Tantangan terbesar bukan hanya panjangnya musim kemarau, melainkan kecenderungan menunggu hingga dampak terasa menjadi krisis. Padahal, informasi iklim akan paling berguna ketika diterjemahkan menjadi tindakan sebelum risiko berkembang.

Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Timur memprediksi September 2026 didominasi kategori hujan “bawah normal”. Informasi ini menunjukkan pentingnya pembaruan prakiraan berbasis wilayah dan waktu spesifik, bukan prediksi nasional yang umum.

Di sini letak ujian kemampuan pemerintah daerah: mengubah prakiraan BMKG menjadi keputusan konkret. Informasi iklim perlu diterjemahkan menjadi pengaturan distribusi air, kesiapan layanan kesehatan, pengawasan sumber api, perlindungan kelompok rentan, dan komunikasi publik yang mudah dipahami oleh semua orang.

Masyarakat justru lebih membutuhkan informasi praktis daripada sekadar mengerti istilah El Niño: kapan aktivitas luar ruang perlu dikurangi, cara efisien menghemat air, tindakan saat menemukan sumber api, prosedur pelaporan kebakaran atau gangguan pasokan air. Bahasa teknis harus diterjemahkan menjadi panduan tindakan.

Kesiapsiagaan Sebagai Investasi, Bukan Biaya

Kesiapsiagaan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang. Upaya mencegah kebakaran, menjaga ketersediaan air, dan melindungi kesehatan masyarakat jauh lebih terukur dan efisien daripada menanggung biaya pemulihan setelah krisis meledak. Pencegahan selalu lebih murah dari penanganan darurat.

Surabaya memiliki modal kelembagaan yang cukup kuat: BPBD yang terstruktur, perangkat kewilayahan yang tersebar, fasilitas kesehatan di berbagai tempat, jaringan komunikasi publik yang luas, dan dukungan data meteorologi dari BMKG. Tantangan utamanya adalah memastikan seluruh unsur itu bekerja terintegrasi dalam satu pola berbasis data yang diperbarui secara berkala.

Kota ini mungkin tidak dapat menentukan kapan hujan turun. Namun, Surabaya dapat menentukan seberapa siap warganya menghadapi musim kemarau, seberapa bijak air dimanfaatkan, seberapa cepat potensi api dicegah sebelum membara, dan seberapa baik informasi iklim diterjemahkan menjadi tindakan nyata di lapangan.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda