SURABAYA — Hujan bukan sekadar soal cuaca bagi kota besar. Ketika terlambat datang, air keran berkurang, risiko kebakaran naik, suhu jalan melonjak, bahkan layanan dasar terancam.
Surabaya kini menghadapi ujian itu. Pemerintah kota dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sedang memperkuat kesiapsiagaan menghadapi El Niño yang diprakirakan bertahan hingga Februari 2027. Dampaknya sederhana: musim hujan akan mundur, dan kemarau berlangsung lebih lama serta lebih kering.
El Niño 2026 diproyeksikan mencapai puncak intensitas “melebihi kategori kuat” hingga awal kuartal pertama 2027. BMKG memperkirakan September hingga November 2026 akan mengalami curah hujan rendah hingga menengah, dengan karakteristik “bawah normal hingga normal”. Di Jawa Timur khususnya, periode Juni hingga November 2026 berpotensi mengalami penurunan curah hujan signifikan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya telah mengingatkan beberapa risiko serius: meningkatnya potensi kebakaran, paparan panas ekstrem, dehidrasi, dan tekanan keras terhadap ketersediaan air bersih. Edukasi mulai digelontorkan melalui sekolah, pesantren, lingkungan warga, hingga media sosial.
Air: Cadangan Menipis, Kebutuhan Melonjak
Ancaman pertama adalah air. Ketika curah hujan berkurang, tekanan ketersediaan air tidak selalu langsung terlihat sebagai kekeringan ekstrem. Masalahnya tersembunyi: cadangan air menurun, kebutuhan rumah tangga justru meningkat karena cuaca panas, dan beban infrastruktur air menjadi terseok-seok.
Pada awal September 2026, BMKG memproyeksikan sejumlah wilayah masih berpeluang mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan. Untuk kota dengan kepadatan permukiman tinggi seperti Surabaya, gangguan pasokan air mudah berubah menjadi persoalan sosial yang meluas.
Karena itu, efisiensi air perlu diterjemahkan dari slogan menjadi kebijakan nyata: pemerintah harus memantau wilayah-wilayah rentan, memastikan distribusi air kepada kelompok yang paling membutuhkan, dan menyampaikan informasi pasokan secara berkala dan jelas.
Masyarakat pun memiliki peran: penggunaan air sesuai kebutuhan, memperbaiki kebocoran di rumah, dan mengurangi pemborosan adalah langkah sederhana yang menjadi krusial jika dilakukan bersama-sama.
Vegetasi dan ruang resapan juga harus dijaga. Kota tidak hanya membutuhkan air ketika hujan turun, tetapi juga kemampuan untuk menyimpan dan mengelolanya saat hujan kembali hadir.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.