Harapan keluarga delapan orang yang hilang di perairan Gunung Anak Krakatau perlahan kian menipis seiring jarum jam yang terus berputar. Sudah delapan hari berlalu, namun jejak mereka masih misterius. Tim SAR gabungan kini mengubah strategi dengan menyisir sepanjang garis pantai di Banten sebagai langkah putus asa mencari titik terang.
Sejak Selasa pagi, 15 September 2026, personel SAR menyisir daratan mulai dari kawasan Carita hingga ke arah Pantai Anyer. Keputusan memperluas cakupan ke pesisir diambil setelah koordinasi intensif di posko utama. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan pantauan dari tengah laut atau udara, tapi mencoba menyisir setiap jengkal pantai kalau-kalau ada petunjuk atau korban yang terdampar.
Area Pencarian yang Sangat Luas
Operasi penyelamatan ini memang tidak main-main. Total luas area yang disisir mencapai 3.962 mil persegi. Wilayah yang sangat luas itu kemudian dibagi ke dalam lima sektor besar untuk memudahkan pembagian tugas bagi 647 personel yang terlibat. Dukungan alat utama juga dikerahkan secara maksimal, mencakup dua unit helikopter untuk pemantauan dari angkasa dan 20 kapal untuk menyisir perairan.
Kasubsie Operasi dan Siaga Basarnas Banten, Rizky Dwianto, menjelaskan bahwa instruksi penyisiran darat datang langsung dari hasil evaluasi tim di lapangan. Mereka sadar bahwa menunggu di laut saja tidak lagi cukup. Apalagi, posisi pasti kapal yang ditumpangi lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut masih menjadi teka-teki besar.
“Penyisiran darat tadi hasil briefing, saya sudah arahkan ke teman-teman yang ada di posko untuk melaksanakan penyisiran darat dari Carita ini menuju ke perairan Anyer, Pantai Anyer,” ujar Rizky di sela-sela kesibukannya mengatur pergerakan tim pada Selasa siang.
Kendala Fatal Lokasi Kapal
Logistik dan personel sudah disiapkan, namun tim penyelamat menghadapi tembok besar: ketiadaan koordinat terakhir. Tanpa titik lokasi yang pasti, pencarian ibarat mencari jarum di tumpukan jerami raksasa. Area yang mencapai ribuan mil persegi memaksa tim bekerja ekstra keras dengan pola yang lebih spekulatif.
Rizky mengakui hambatan ini membuat proses penyelamatan menjadi sangat kompleks. “Untuk penyelamatan kita terkendala, karena memang luas area kita yang terlalu luas dan kita tidak ketahui posisi terakhir kapal tersebut ada di mana,” tuturnya jujur. Ketidakpastian lokasi memaksa tim SAR tetap menebar jaring di wilayah yang sangat luas, meski efektivitasnya terus diuji oleh waktu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.